Thursday, August 25, 2011
Ketemu Anaknya Mantan
Pagi ini aku dikejutkan oleh sebuah pesan pendek dari mantanku. "Aku nanti mau ke Kota Gede, kalau kamu mau ketemu anakku datang aja aku mau belanja."
Pesan pendek yang menambah daftar penghilang kantukku meski sehabis subuh tak tidur bertemankan kantung penuh pesan pendek penghilang rindu bersama perempuan yang sedang asik mengusik hati itu. Ditambah hari ini emang agendanya adalah nganterin soulmate sebelah kamar ambil motor untuk pulang kampung.
Pesan pendek lagi muncul. Mereka sudah otw. Aku loncat dan mandi padahal masih malas2an juga, maklum pagi bo! Meski tetangga sebelah kamar sudah siap sedia berangkat.
Hal yang tercetus di otakku adalah apakah bocah itu masih akan ingat aku? Pasalnya, setahun lebih aku tak melihatnya lagi usai relasiku dengan ibunya berakhir. Meski aku dengan ibunya kadang bertemu, tapi dengan alasan tak mau si kecil nyeloteh ke bapaknya maka aku tak pernah dipertemukan dengan bocah pemanggilku Buyek ini. Ah, terakhir bertemu ia masih cadel, bgm ia kini? Itu yang bikin semangatku untuk segera bertemu.
Prosesnya ternyata tak mudah. Proses menemukan tempat yang dimaksud bgtu maksudnya. Aku belum hapal daerah tsb, yang ada aku muter2 dulu sebelum menemukan tempatnya. Kayaknya ada aja ya kalo menginginkan sesuatu...
Menyusuri ruang busana yang cukup besar, dimana ibu dan anak itu? Lalu kulihat mereka sedang asyik milih2 sendal. Bocah itu masih dengan potongan rambut yang sama, tapi wait a minute tubuhnya terlihat lebih cungkring hingga alur wajahnya sekarang kini lebih mirip ibunya.
"Kok jadi mirip kamu sekarang?" tanyaku. "Perasaan dulu mirip bapaknya deh!"
Perempuan itu diam aja. Tiap ketemu aku kayaknya aku bisa nangkep ada kegembiraan terselubung dalam pancaran matanya (kalau kamu baca ini, jangan muntah ya hehe). Dan satu lagi kebiasaan bibir si bocah pun mirip ibunya.
Aku ga pernah suka anak kecil, tetapi ketika dulu berelasi dengan ibu bocah ini, entah kenapa ada kedekatan diantara kami. Aku masih ingat dulu ketika kami bertiga menghabiskan waktu, bocah kecil ini selalu menengok ke belakang, memastikan aku membuntutnya. Begitu juga tadi, ketika sang ibu menuntunnya ke bagian etalase celana usai memilihkan sepatu yang diminatinya, ia menoleh ke belakang, apakah aku mengekornya atau tidak.
Bocah perempuan itu tetap pemalu seperti dulu. Ia hanya bicara dengan ibunya. Kalau kuajak bicara ia tak berani menatapku, menjawabku dengan menoleh ibunya.
Perjumpaan yang singkat memang, tapi bagiku melegakan. Dulu aku sampai termimpi untuk bertemu bocah itu. Dan yang tanpa diduga, aku bertemu teman kantor disana. Hmm, pasti ada gosip seusai liburan nanti. Pasalnya, orang2 kantor tau betul relasiku dengan ibu bocah itu. Bahkan di beberapa kesempatan seorang teman kantor yang juga baru melahirkan dan sedang menyusui meledek habis2an soal bgm perilaku seksualku ketika berelasi dengan perempuan yang sedang menyusui!
Hmm, menanti gosip berputar di kantor, tapi aku bersyukur bertemu bocah perempuan itu setelah sekian lama, dan ibu si bocah.. Ia nitip salam pada ibuku yang pastinya juga akan menanyakannya. Maklum ibuku mengira dulu ketika aku berelasi dengannya, yang ada di pikiran ibu adalah dia seorang lelaki dan akan menikahiku kelak. Andai ibu tahu... Hehe.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment