Wednesday, August 10, 2011

Cerita Gajah dan Simpanse

Gajah adalah kamu. Kamu yang tiba-tiba ada di list pengikutku di sebuah situs jejaring sosial. Perpaduan padi dan kopi, ID yang unik, filosofi padi padu padan kopi yang kau lontarkan masuk akal bagiku. Lalu kenapa Gajah? Karena kau bilang kau besar. Gajah besar, bukan?

Dan Simpanse adalah aku. Ia tak mau kalah dibilang Gajah, memanggilku Simpanse.
"Simpanse itu paling pintar lho diantara hewan lain, terutama untuk bangsa monyet!" elakku. "Daripada Gajah, cuma gede doang!"
"Mending Gajah, dianggap suci di Thailand, daripada Simpanse, nggilani (menjijikkan)"
Dan serentetan olokan lain mengikuti. Ya, perkenalan yang berawal di jejaring sosmed kemudian beralih chat messenger dan pesan pendek itu kemudian tak berhenti untuk tiap waktu saling olok dan ngotot, bahkan untuk bahasan sepele.

Perkenalan ini tak lantas mulus saja. Sejak awal mengenalmu aku mencium gelagat ada yang kau sembunyikan di balikku, entahlah, sepertinya banyak yang janggal darimu, dari mulai nama yang tak kunjung kau sebutkan dan nomer hape yang kadang hidup kadang mati. Asal tau saja, aku paling preventif dengan orang-orang model begini. Kau bukan orang pertama yang kuragukan dalam sejarah perelasian usai buyarnya relasi terakhirku. Aku mungkin terlalu antipati, ya begitulah aku! Perjalanan cintaku adalah guru paling buruk yang kemudian membentuk karakter preventif otak terhadap hati.

No comments: