Tuesday, August 23, 2011

Sedang Kecewa


Saya memang sedang kecewa, kecewa dengan diri sendiri. Hmm tanpa bermaksud menghujat!

Memutar ulang perbincangan dengan seorang teman berbagi pikiran yang jauh dimata semalam, ada sebuah pola yang kami amini untuk men-trackrecord kisah asmara saya. Pengulangan pola, kata perempuan itu, dan aku sudah sadar hal tsb namun anehnya tetap dilakukan berulang.

Aku bukan tak belajar, tapi entah apa namanya kok bisa terulang. Internal error yang tak bisa dibenahi mungkin haha. Sementara sparepartnya juga tidak dijual di toko2 terdekat. Sifatnya mendestruktif hati sendiri. Ternyata, sekali lagi, bukan orang lain si pencuri hati yang tak siap, tapi lagi2 saya dan permasalahan internal antara otak dengan hati.

Fluktuatif, bukan labil. Dan itu sangat destruktif. Di satu sisi negatif yang melanda pun dibarengi kekuatan positif. Pernah merasa seolah-olah neuron anda yang positif dan negatif pada saat yang sama bertabrakan hebat? Dijamin, cairan sekret otak dibalik batok kepala ini bahkan bisa saya rasakan dentingnya di telinga mirip air yang mengucur, hingga suhu tubuh tinggi di dalam, kedinginan tak berpenyebab. Bahkan aku tak bisa lagi merasa, ibarat dulu melaju motor dalam hujan deras tetapi badan tak merasa basah, tahu-tahu sampai rumah kuyup pasi, mati rasa!

Tiga hari yang melelahkan! Saya tak menyesal perputaran waktu menyuguhkan irisan takdir untuk aku dan perempuan itu, hanya saja semoga kali ini destruksi internal ini tak berakhir senada dengan cerita2 sebelumnya.

Kalau ia bergelut dengan 1001 resiko membuka hati karena tak mau komitmen dan masa depan yang merupakan keharusan dibangun dengan laki-laki, God Knows that's not a big deal! Kontradiksi pemikiran mungkin, mengingat rangkaian cerita 2011 tak satupun dari para perempuan yang beririsan takdir denganku murni homoseksual, aku sudah lumayan fasih dengan uncommitment dan tuntutan lain. Kontradiksinya denganku adalah ia bermasalah eksternal, sedang aku perang internal.

Tuntutan yang kulakukan pada orang lain tak bisa kuungkap, jelas saja bagaimana mungkin kau menuntut orang yang belum menetapkan hati untukmu. Makanya ketika hati dan otak sibuk sendiri, maka aku harus menikmatinya sendiri, karena tak mungkin aku mengajukannya meski pada kenyataannya aku benar-benar mendestruksi perempuan pengisi hati ini dengan nalar tingkah laku yang tak bisa di nalar. Hal yang kemudian sungguh tersesali namun sudah tak bisa terhapus, selain mengubah diriku di dalam untuk tak lagi melibatkannya dalam wilayah hati dan otakku.

Memahami diri sendiri; bahwa dalam saat bersamaan aku (hati dan otak) bisa sekaligus merasakan negatif dan positif thinking, destruksi dan recovery, bangkit dan jatuh, serta semua hal kontradiktif berbarengan.

Kecewa dengan kerumitan diri sendiri. But, that's me, sampai detik ini still love my self completely complicated complex!

No comments: