Wednesday, August 24, 2011
Memutus Pusaran
Namun bila waktuku telah habis dengannya, biar cinta hidup skali ini saja...
Menarik diri, daripada saya menarik perempuan itu ke dalam pusaran yang saya buat. Pusaran yang bahkan saya tak bisa keluar, menunggu untuk terlempar ketika arus sudah lelah mempermainkan saya di dalamnya. Saya bukan menyerah untuk meraihnya, saya hanya tak mau menariknya ke celah yang bahkan untuk diri sendiri pun belum bisa menaklukkan. Ego saya!
Menilik kembali roda percakapan dunia maya sekitar tak sampai sebulan lalu, pelangi bibirku kerap muncul. Jujur, aku merindu kita yang dulu. Kita yang terpisah jarak namun bukan waktu. Aneh, kenapa aku tak bisa sesederhana seperti ketika di awal dan malah ribet dibelit prasangka dan posesif nggak jelas, sementara ia dengan sangat jelas tak memantulkan hal yang kurasakan?
Hati kok malah heboh sendiri. Ego saya pun perang sendiri. Apakah saya butuh pengakuan perasaannya terhadap saya? Pengakuan yang bagaimana lagi, hati saya yang lain bilang begitu. Toh sudah jelas alur gamblangnya.
Tersiksa untuk menjadi tak sederhana. Tapi daripada saya membuat satu orang lagi merasa tersiksa dengan hati dan pikiran2 aneh saya, mending memutus pusaran agar ia tak terkena getah. Kalau sakit, biar saya aja yang sakit karena sakit itu saya yang buat sendiri.
Tuhan bila masihku diberi kesempatan, ijinkan aku untuk mencintainya...
(Tak sanggup bila harus jujur hidup tanpa hembusan nafasnya...)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment