Wednesday, August 17, 2011
MULAI MENGUSIK HATI
Belum genap sebulan memang, tapi kau cukup mengobrak abrik tatanan otak, terlebih hati. Jeda usia lumayan jauh awalnya jujur saja aku sudah underestimate bahwa bentuk pertemanan ini hanya akan berlangsung sebagai sebuah basa basi saja. Basa basi orang muda kepada orang yang lebih tua. Dan aku salah total!
Komunikasi jejaring sosial dengan perempuan itu menggelitikku. Tukang ngeyel, itu aset utama yang menarik perhatianku. Kalo asal ngeyel sih tak akan kugubris, argumennya memicu kerja otak yang kadang memburatkan secarik senyuman.
Hingga hari ke berapa aku belum juga tau namanya. Nomor ponselnya bertitelkan nama jejaring sosial yang -katanya- kini dimusnahkannya. Obrolan panjang lebar pun mengalir. Ia kian memikat. Tau sendiri, aku paling suka perempuan berotak. Memetakan isi pikirannya, menguras isi pikiran dan keterampilan argumentasiku. Namun tetap saja, relasi apapun tetap punya pasang surut. Bahkan aku gak nyangka hubungan ini masih hingga kini, pasalnya beberapa hari setelah saling kenal, kami beradu hebat. Kupikir aku tak akan mengenalnya lagi. Sampai2 aku mengutas doa yang kulafalkan di fesbuk, kalau memang untukku dekatkan, kalau bukan, tunjukkan. Esoknya, aku sumringah ketika pesan pendeknya mampir lagi di ponselku.
Siklus perkenalan yang bertahap; jejaring sosial, chat messenger, pesan pendek, obrolan by phone, dan penyebutan nama. Aku belum tau wajahnya! Meski begitu aku sudah cukup tau karakternya, meski ada juga beberapa ganjalan di otak. Dan bagian mengetahui bentuk fisiknya adalah satu lagi proses yang mengejutkan.
Setelah proses ulet dan penemuan beberapa fakta, ia kemudian membuka kedok wajahnya. Aku memang sengaja pura2 bego diantara sekian gambar tsb ia yang mana, meski aku sejak awal menduga ia yang berpakaian dan berparas cerah itu. Lalu apakah aku senang? Tidak! Aku bahkan berujar pada tetangga sebelah kost, diantara gemuruh hati yang mulai bersemi sepertinya aku harus memusnahkan rasa itu. Ia terlalu cantik untuk kudekati! Jadi jangan dikira wajah makin rupawan, aku kian senang, tidak, aku mundur saja kawan! Begitu ujarku yang dikecam tetangga sebelah.
Hari-hari hatiku terisi olehnya. Dering sahur. Pesan pendek penghilang kantuk pencipta kantung di bawah mata. Ejekan yang terus bersambung. Membagi benak untuk satu dan beberapa hal. Hmm, aku tak usah membunuh waktu sepanjang puasa, bahkan dua jam beradu eyel-eyelan dengannya seperti baru 10 menit saja, walhasil setelahnya kerongkongan macam habis karaokean berjam-jam.
Namun relasi apapun sepertinya tak akan mulus saja. Aku mengakui, fikiran negatifku tentangnya belum bisa hilang. Ada pertanyaan2 yang dilontarkan otak meski hati sudah setengah mati memangkas prasangka. Otak, kau mungkin benar tak ingin aku sakit lagi, ujar hati, tapi kalau kau terus mencari celah salahnya, aku tak akan menemukan belahanku untuk berbagi. Ya, hatiku kerap wanti2 untuk mengajari otak setulus seperti tawa dan senyuman yang dilakoni hati.
Ia telah tau hatiku, ya kemajuan yang menurut beberapa kawan patut diacungi jempol. Ia tak mengiyakan pun tak menolak. Aku bersepakat bahwa ya akan terlalu cepat untuk memutuskan ya atau tidak. Membiarkan semuanya mengalir the way it path! Menyilahkan sang waktu menyuguhkan diskusi panjang, adu pikiran dan pemahaman karakter masing2 sepanjang memberi manfaat positif bagi keduanya ke depan, aku tak akan mereka-reka apapun bentuk relasinya.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment