Wednesday, August 24, 2011
Membebaskan Pikiran
"Dah kemaleman nih," Begitu alasan yang kuketikkan dalam pesan pendek pada perempuan yang sudah janjian ngajak ketemuan dari jaman sekitar dua mingguan lalu itu sembari melihat jarum jam menunjuk pertengahan antara angka 7 dan 8.
"Ya udah, ketemu taun depan aja!" Balas perempuan itu singkat tapi menohok ketus.
Alasanku yang agak mengada-ada memang setelah sebelumnya aku berujar di telepon bahwa suasana hatiku sedang tak enak dan takut menjadi partner bicara yang kurang menyenangkan.
"Nanti kalau aku jadi teman bicara yang buruk, aku disuruh pulang saja ya," pintaku yang diiyakan perempuan ini sambil ngekek.
Jadilah kemudian aku melajukan motor ke rumahnya. Yah, dengan sisanya benak untuk perempuan lain. Feelingku mengatakan ketemuan dengan perempuan ini takut menambah ketidakenakanku, maklum ketika otakku sibuk, hal lain takkan masuk pikiran. Ditambah aku hapal model karakter perempuan ini yang bukan orang yang tepat untuk diajak bicara urusan hati model beginian.
Tapi karena ini record baru buat kami, hampir sebulan ga ketemu dan menjeda komunikasi. Biasanya kalau tak telpon, hampir tak pernah luput bercengkrama di komen fb nyerempet atau bersetubuh astrologi di twitter. Katanya, kami harus ketemuan sebelum aku mudik. Gak biasanya juga sih beberapa hari belakangan ia tiba2 nelpon setelah janjian karaoke bareng yang terulur2 kandas terlaksana gara2 crash timing. Menurutnya, malam ini adalah time limit karena mengira aku mudik esoknya. Btw, ini si perempuan 3 Bulanan yang pernah kutuliskan sebelumnya itu lho!
Rumahnya sepi. Tak ada celoteh kwak kwik kwek yang mungkin sudah tidur. Hanya bertemu si ganteng adik perempuan ini yang lumayan ndagel. Benak ini masih gak karuan, tubuh dimana pikiran kemana. Dan uniknya, feeling saya tak seperti biasanya. Tau sendiri, saya memandang bentuk relasi feeling saya dengannya cukup unik. Materi bahasan yang sering cukup nyerempet, perilaku juga cukup nyerempet, ah mungkin dia suka berperilaku begitu, dan saya aja yang suka panas dingin dibuatnya karena tak mau menabrak koridor yang dibangun otak hatiku sendiri.
"Trus kita mau kemana?" tanyaku sembari menunggunya makan. Agak aneh juga kalau mau keluar kok nih orang malah makan
"Ke Semesta aja, men-cokelat!" Aku ngiyain meski gak tau tempatnya, maklum kuper.
Cafe yang lumayan padat pengunjung. Dan jadilah kami duduk di meja kecil untuk dua orang di sisi gemericik air dan dedaunan dengan bising bunyi pesawat terbang baru take off. Gak tau kenapa kok aku suka banget liat pesawat baru take off atau mau landing keliatan dekat dan besar menggaris di langit. But aniwei forget it!
"Pesan Cokelat Couple aja ya? Itu cokelat udah untuk dua orang." ujarnya. Dan spt biasa ia mengabsurdkan apa maksudnya kok pake Couple2an gini.
"Panas atau dingin tuh?" tanyaku.
"Panas!"
Hmm, aku bukan penyuka minuman hangat. Tapi ide awal minum cokelat itu yang membuatku mengiyakan pesanan. Cokelat bantu recovery suasana hati, bukan? *sugestiku*
Ia mulai menyalakan sigaret. Mata kemana, pikiran mikir apa dan mulut bicara apa, itu yang kerap mewaspadakanku untuk mencerna alur ketiga inderanya tsb. Sebuah notes kecil yang ia bawa dari rumah, tak tersentuh.
Ada lelaki di ujung telepon sedang main biliard dan mulut perempuan ini juga membagi obrolan denganku. Menanyakan pada si lelaki di kotanya banyak kah L nya. Kalau banyak maukah aku dikenalkan pada salah satu atau salah dua diantaranya. Dan penutup obrolan di telepon yang lumayan unik; Ia berucap Love U kepada lelakinya tapi arah matanya padaku dengan senyuman. Sembari terkekeh aku pun menjawab Love U 2 plus seutas muach di bibir.
"Asik juga ya kalo gitu tadi, di telepon bilang Love U, ternyata bukan untuk dia yang di telepon tapi orang di depan kita, dia gak tau kan," jelasnya sembari tertawa usai menaruh gagang henpon. Oh ya, dia pernah berucap aku agak cemburu dengan lelaki ini tiap ia menyebut namanya aku selalu komplain, dan aku mengiyakan.
Dua cangkir cokelat panas kental tersaji mengiring obrolan tentang membebaskan pikiran. Awalnya ia mengungkap rahasia kehidupan rumah tangganya. Kita sudah cukup lama saling kenal, baru ini ia bercerita. Lalu tercetuslah kata Membebaskan Pikiran ini... Meski tak hampir seluruhnya sependapat dengannya, tapi sedari awal mayoritas ide dan pemikiranku tentang HAM selaras dengannya.
"Orang2 lain banyak yang tidak trima pola pikir dan pola hidupku yang spt ini, kata mereka kebarat2an lah dsb, tapi kalo saya merasa nyaman begitu kenapa harus mikiri apa kata orang, sedang kita sendiri tidak merasa nyaman."
Ibarat dunia LGBT, pemikirannya sama, diminoritaskan karena tidak sesuai kaidah mayoritas masyarakat kebanyakan.
"Makanya yang dilakukan adalah Membebaskan Pikiran, karena dgn begitu pikiran negatif akan hilang dan hanya menjadi milik orang2 lain yg resah dengan isi otak mereka sendiri, sedang kita akan bebas!"
Dasar otakku sedang lagi mikiri hatiku, langsung tercetus korelasi apa yang diucapkan perempuan itu dgn kondisi "dilema" hati malam itu. Dan baru kali ini kami sedikit membahas urusan "hatiku". Biasanya kami hanya bahas soal kami, tidak cerita hatiku, meski kadang ia bercerita ttg cerita hatinya.
Beralih pada topik seksualitas, ia berujar tak selamanya orang bilang ia hetero atau biseksual atau homo. Aku mengamin fleksibilitas tsb.
"Makanya sekarang kan aku sedang melesbikanmu," ujarku campur ngakak melihat ekspresinya. "Aku bercanda, ralatku.
"Eh, jangan salah, tau darimana kalo aku hanya tidur dengan lelaki, bukan dengan perempuan? Waktu itu aku pernah sudah hampir mencoba tapi sikon tempat tidak memungkinkan, masak mau bercinta di kantor!"
Tidak mengejutkanku, karena kalau ia tak begini maka hubungan kami ga akan berlangsung sampai sekarang. Jadi teringat sekitar sebulanan lalu ia pernah meminta foto pose gigit2an lidah di keramaian Alkid yang sumpah bikin aku panas dingin, sementara sohibku ngakak dan bersedia gantiin kalau aku nolak permintaannya.
Hmm perempuan ini meski agak gila tapi menyimpan kemisteriusan dengan kadar lumayan tinggi. Alur hatinya tak tertebak. Kalau aku terbiasa membuat alur hati dengan memberi lajur kontruksi dan koridor, maka ia menerapkan sistem tabrak. Meski begitu keunikan karakter bebasnya masih belum bisa kubaca.
Balik ke ruang di Semesta, setelah definisi Membebaskan Pikiran, hatiku masih terusik. Dan entah keputusan darimana aku tiba2 mengirimi perempuan yang mengusik pikiranku sejak beberapa hari ini sebuah pesan pendek. Efek pembebasan pikiran, memaknai apa yang kita rasakan secara positif. Ia membalas tak lama.
Satu hal lain yang ia sarankan padaku, kau memang harus membebaskan pikiranmu, tapi ingat tujuan awal konsekuensi pilihan orientasi seksualmu kemana... Kalau yang kau jalani sekarang spt ini, paling tidak meski kau terus jalani, ada kesiapanmu untuk konsekuensi yang sejak awal kau ketahui..
Perbincangan di tengah galau yang cukup unik malam ini. Menciptakan pola baru, membebaskan pikiran, membiarkan orang lain berasumsi, baik atau burukkah yang penting kita merasa nyaman dengan apa yang kita lakoni tanpa mengganggu hak orang lain.
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment