Wednesday, September 14, 2011

Ketemu Ninja!


Buat saya pertemuan hari ini tak terencana... Aku masih ingat ketika perempuan itu mengatakan ikhwal tujuan kemana ia pergi. Entah memang ia sengaja atau tidak, ia lalu "menawari" untuk sekalian bertemu muka.

Menolak dengan alasan karena tak mau menjadi kambing congek diantara ia dan temannya, aku hafal dengan diriku sendiri yang bertabiat akan diam ditengah orang2 tak dikenal. Makanya tak ingin hal tsb terjadi, aku menyilahkannya bersilaturahmi dengan temannya itu saja.

Detik berganti sedemikian cepat, pun rencana. Soulmate sebelah mau nemenin. Pesan pendek cepat menyatakan ia di Malioboro. Melajukan motor bersama clue perempuan bermasker, menemukannya di tempat yang seperti ia bilang, depan halte busway benteng.

Aku sebenarnya kenal dengan temannya, hanya saja kalau tak salah di dua kali perjumpaan kami gak pernah ngobrol sesuatu yang berarti, just say hi. Perempuan itu tampak akrab dengan si teman. Malahan ia lebih banyak bicara dengannya, atau dengan soulmate ku ketimbang aku yang hanya dijutekinya.

Penghujung Maghrib tiba, si soulmate harus pulang karena seperti biasa jadwal apel jam 7. Sejak awal aku sudah berkeputusan kalo ia pulang, aku juga akan pulang, seperti yang kubilang di awal tadi, aku tak pandai melebur, meski secara tatap suara aku mengenal perempuan itu. Namun si soulmate wanti2, aku harus kembali kesana, mencoba untuk tidak menjadi diriku yang itu. Dan aku mencobanya...

Bertiga, dan tetap diam. Bukan congkak, hanya tak bisa memulai dan menyatu. Mereka akrab, pun si temannya juga ramah. Kecuali perempuan itu. Aku tau ia tak dari hati jutek, tapi disuguhi mata yang tiap kali mengarah padaku dengan pelototan kadang jengah juga. Menghabiskan waktu dengan hape, seperti tak mau bicara denganku, ya itu kamu!

Dan yang lebih parah adalah perempuan itu tak sedikit pun mau untuk membuka masker, alasannya: "Dulu kau pernah bilang, ingin bertemu denganku hanya ingin lihat gerakan mata dan gestur tubuhku aja, bukan?"

Hmm, ya benar, aku memang pernah berucap demikian, tetapi ketika kalimat itu diartikan secara detonatif, bukan konotatif, siapa disini yang sebenarnya kurang kerjaan? Bahkan sampai si masker aku "perkosa" pun ia memilih tetap memakainya. Aku nggak kepengen liat wajahmu kok, cuma yang lumrah aja masak ketemu masker ga mau dilepas, batinku. Ya, aku anggap aja hari ini ketemu Ninja. Persis, wong cuma liat matanya aja gerak kiri kanan melotot dan memicing tertawa disaat bersamaan.

Hanya sekitar setengah jam saja dari perjalanan waktu sepanjang sore hingga setengah 9 malam kami diberi waktu berdua. Itu ketika temannya naik busway. Menyemai setengah jam di kursi panjang belakang halte, aku tak menyebutnya bercengkrama. Entah apa namanya, aku hanya merasa hatiku bahagia di dekatnya, meski secara lisan tak mendapat perlakuan yang sama. Ia hanya menyuguhiku mata, tetapi ketika mata itu kunikmati dengan mataku ia memilih menghindar membuang suguhannya.

Adek, aku tau hatimu meski lisanmu pedas sekali padaku!

No comments: