Monday, September 19, 2011

Mengkotakkan Rasa Sayang


Perempuan itu sedang kontradiktif. Dulu, di awal2, ketika aku belum bisa mengontrol batasan2 ego, amarah dan penuntutan2ku terhadapnya ia berujar cinta itu bukan kedaulatan ego, karena waktu itu ia bilang beberapa kali egoku terlalu mendominasi. Tetapi ketika sudah "insaf" di hari Minggu lalu sudah bisa dengan enteng membawa perasaan sesuai lajurnya, ia mulai ribet dengan pesan pendek semalam apakah aku sudah mengakhiri perasaanku padanya usai pertemuan kami sesuai yang aku gaungkan ketika emosi2ku sedang tidak stabil, waktu itu.

Aku mengakui aku pernah berkata demikian, tapi itu jauh sebelum saya merasa tenang usai berbincang denganNya dan menguatkan serta mensupport hati saya untuk melogiskan batas hubungan saya dengannya kini. Ya, pembenahan besar2an itu yang saya lakukan! Selama ini aku mengakui sudah terlalu menjamah memaksa di koridornya, tetapi usai doa malam itu hati sudah bisa dengan ringan menjalani hari2 berikutnya rileks, tanpa cemburu, tanpa menuntut meski dengan tujuan yang masih sama, yakni jika ia memang beririsan takdir denganku aku memohon untuk dimudahkan.

Pertanyaannya semalam membuatku bertanya2 juga, setelah proses ketemu itu aku meyakini hubungan ini sudah dengan bisa santainya bergulir. Sudah tak ingin debat, adu argumen tak penting terhapus. Malahan kemajuan banget dengan intensnya frekuensi telepon, mendengarkan keluarganya bercengkrama, membocorkan suasana nikah kakaknya, mengetahui kalo ia ternyata bisa boso jowo alus dengan intonasi yang saya suka. Intinya, hal2 baru yang bagi saya kemajuan, meski ia menyaringkan tiap hari di telingaku tentang ospek menjadi kakak. Tak ada yang kumasalahkan, bagiku proses lebih berarti daripada pelabelan!

Dan kini ia bukan saja berada pada level pelabelan. Pesan pendeknya tentang pengakhiran perasaanku adalah bentuk pengkotakan untuk rasa sayang yang secara implisit ia tanyakan. Apa benar itu yang ia inginkan? Kembali aku bertanya2. Dan memang, aku sedikit terbawa emosi yang kemudian dibarengi penyadaran diri bahwa wilayah koridorku adalah tentang diriku sendiri, bukan tentangnya.

Mengkotakkan rasa sayang. Kalau kakak bentuk kotak begini dengan porsi begini, begitupun kalau kekasih. Hmm, aku tak akan terseret arus berpikirmu!

Aku memang tak seberapa fasih, aku sedang belajar, tertatih, untuk tetap pada tujuan awal aku padamu... Mengusahakan. Terserah kau membatasi dirimu dengan pengkotakan pikiran dan hati yang telah kau rasio sendiri. Bagiku rasa sayang hati tak bisa dikotakkan, ia hanya punya batas. Seperti yang kubilang padamu malam ini, aku sedang membuka rekening hatiku untukmu, bukan untuk membelimu, tapi menabung tiap kepingan transaksi memori hari yang saya lalui.

Mengusahakan. Sampai kau berkata ya atau tidak untuk hatiku. Atau sampai hatiku sudah terlalu bosan karna kau terlampau jual mahal padaku.

Tak akan berandai2, aku hanya menjalani proses hati ini dengan begitu teramat sederhana sesederhana bagaimana aku terpikat oleh otakmu. Otak yang ada di kepalamu, juga otak di hatimu.

No comments: