Minggu ini banyak bercerita, juga airmata. Cerita tentang derai tawa yang ternyata menyimpan sejuta makna, serta derai airmata, dan terutama bukan saya saja! Bukan sedang mencari teman galau, tapi kok bisa kompakan gini ama soulmate.
Sepagi-siangan penuh cerita canda. Dan ternyata bibir yang saling merekah hanya topeng ketika dalam keramaian sama-sama berada di suatu tempat lain dan memikirkan orang lain, bukan barang2 yang disuguhkan di etalase bering harjo dan seputaran malioboro yang sedang kami geluti mengantar satu teman kost lain yang katanya mau beli souvenir.
Hatiku sih sudah tak enak sejak paginya. Ada sesak yang tertahan. Sesak yang kemudian tumpah usai kumandang Maghrib. Berbincang denganNya, merasakan Ia seolah tepat di depanku melihatku meregenerasikan buliran air yang lama tak keluar dari mataku. Ya, berbincang denganNya selalu membuahkan ketenangan, kelegaan dan semangat baru tentang hidup yang kuhidupi dan dihidupkanNya.
Dan soulmate pun dilanda galau yang sama. "Bisa minta tolong?". Begitu tanyanya via sms padahal kamar kami hanya terjeda satu pintu penyekat. Aku maklum ia mungkin tak ingin mengganggu usai pesan pendek yang kukirim sebelum Maghrib.
"Mau minta tolong apa?"
Dan ia bercerita tanpa berani menatap mataku.
"Ya udah, sini aku anterin..."
"Nggak papa kan? Aku udah bilang kamu sedang nggak bisa dimintain tolong, tapi.."
"Nggak papa aku anterin kesana kalo memang itu bikin dia lega,"
Perempuan itu mungkin setengah nggak percaya recovery ku secepat ini.
Kembali ke kamar, urung bikin mie, mengambil jaket dan menunggunya diluar. Sekalian beli obat aja nanti, pikirku. Sebuah motor datang, ternyata laki-laki yang akan kami samperin.
"Mau keluar ya, kemana?" tanyanya ketika aku bergerak mematikan motor.
"Ke tempatmu! Katanya dirimu nggak bisa kesini,"
Terlanjur nyalain motor aku pergi aja sekalian beli obat meninggalkan sejoli ini.
Sekembalinya, si soulmate menghadang motorku sembari berlinang airmata. "Berhenti dulu, ada yang nggak percaya kalo kita tadi mau keluar nemuin dia. Kamu ceritain!"
Setengah melongo juga, pasalnya meski aku tau perjalanan cintanya dengan lelaki ini dari awal hingga sekarang -meski hanya berdasar tuturan versi si soulmate saja- tapi nggak sekalipun aku tatap muka langsung dengan si lelaki, apalagi ngobrol. Sekedar tau saja, dari beberapa lelakinya sejak dulu, hanya aku yg ga pernah tau bgm bentuk wajah mereka, hanya ceritanya saja, padahal mbak PRT kost itu mpe hapal dan bisa bandingin mana yang lebih cakep diantara pacar2 si soulmate. Emang sih dari dulu aku nggak pernah mau ikut campur, padahal si soulmate ini tau semua wajah2 perempuan dalam hidupku hehehe. Mpe lucunya pas jalan di Malioboro kemarin ketika ia menunjuk sebuah baju dan aku berkomentar: "Ih, kayak si A banget!", si soulmate ini langsung bilang: "A yang mana?". Aku terkekeh, "Kamu tuh tiap aku sebut nama perempuan langsung kayak ada detektor di otak yang mendeteksi, ow si A, itu orangnya yang begini begini begini. Hafal ya kamu!"
Kembali ke topik hadang menghadang, ya meski diri sendiri lagi galau, pikirku bantu nyelesein masalah orang lain semoga juga membantu nyelesein masalahku.
Mencoba menjelaskan ketakpercayaan lelaki itu atas alasan si soulmate yang bilang aku sedang tak bisa dimintain tolong, tapi kok kelihatannya aku baik2 saja. Ya, dari luar secara fisik siapapun tak akan bisa percaya kalau sejam lalu aku menggigil ketika berbincang denganNya. Aku tau bahkan si soulmate pun takjub aku bisa seenteng ini, menyungging senyuman, masuk dalam konflik ia dengan lelaki itu seraya memberi saran2 obyektif tentang relasi mereka bagaimana baiknya.
"Sudahlah, capek berantem tiap hari itu, aku sudah mengalami sendiri soal itu. Secara pola pikir, aku ama Masnya dari cerita yg selama ini ia curhatkan mungkin sama dengan pola pikirku, tapi balik lagi di tujuan awal kalian berelasi apa, kalo ingin dibawa baik maka gak ada sesuatu hal pun yg ga bisa diselesaikan dengan komunikasi tanpa emosi."
Aku meninggalkan keduanya. "Makasih ya," ucap si soulmate masih berurai airmata.
Pintu gerbang sudah dikunci, si soulmate belum balik. "Belum pulang?" Pesan pendek yang kukirim tak berbalas. Sejam berikutnya ia datang.
"Aku baru muter2 sendirian!" ujarnya.
"Kok nggak ngajak aku?"
"Ya, takut nek kamu gak mau!"
"Halah, tau gitu tadi nongkrong dulu!"
"Iya, tadi mikirnya gitu, ngopi dulu dimana gitu sambil crita2. Tapi aku gak enak. Jadi ya muter2 sendiri!"
"Gimana ceritanya tadi?"tanyaku soal lelakinya.
Dan si soulmate bercerita adegan sinetron selanjutnya. Dan tak ada lagi airmata di matanya...
"Aku sudah luweh luweh (ga ambil pusing), malah tadi aku mbatin kok dia ga minta putus ya, dah ga mau mikir lagi, capek hati!" terangnya.
Sama kayak yang kubilang dulu padanya, waktu itu ia termehek-mehek berantem hampir tiap hari untuk hal2 sepele, ia dan lelakinya harus meninjau ulang relasinya akan dibawa kemana. Waktu itu si soulmate merasa ia selalu salah dan disalahkan, merasa harus minta maaf dan memperbaiki relasi. Tangisnya hampir tiap hari tumpah.
"Nikmatilah airmatamu sekarang. Kalau kalian nggak berniat meninjau ulang tujuan berelasi kalian maka ketika airmatamu sudah tak lagi terasa sakit, maka saat itu kau sudah mati rasa" ujarku dulu.
Dan benar begitu sekarang adanya. Aku tak sedang menyukurkan kondisinya, hanya merasa kontradiktif tawa sehari dengan berantem2 yang tak terselesaikan dan terungkit di lain hari. Hmm, aku tak berhak di wilayah tsb, hanya sebatas saranku pada si soulmate yang katanya sudah ga mau ambil pusing lagi dan aku menghormati pilihan keputusannya.
"Lalu bagaimana ceritamu dengannya?" tanya si soulmate padaku.
Aku tersenyum. Jempolku masih belum berhenti beradu kata dengan perempuan yang dimaksud si soulmate. "Kalian sih jelas ya bentuk relasinya pacaran, wajar berantem, nah kalo aku ama dia pacaran aja nggak, kenal belum lama, tapi berantemnya kayak udah nikah punya anak satu aja!"
Buliran air serupa fungsi peluh, lelah. Perempuan itu masuk dalam daftar nama yang dicatat oleh Tuhan untuk garis hidupku. Dan Tuhan belum memberiku contekan apakah ia benar ada dalam irisan takdirku. Ketika berbincang denganNya aku selalu meminta jikalau ada irisan takdir agar dipermudah selama membawa kebaikan untuk keduanya.
Plong! Tak pernah ada sesal, apalagi benci. Aku meyakini proses ini belum berakhir, terutama proses hidup dengan tujuan tunggal perempuan setengah baya, kekasih hatiku satu-satunya, ia yang selalu menengadahkan tangan untuk restui hidupku sampai detik ini.
Galau Minggu bukan milik saya saja, bukan bermaksud cari teman, hanya satu dari sekian teguran, that's life!
Get well soon, heart...
*Sebab perasaanku tlah mati untuk menyadarinya...
No comments:
Post a Comment