Sunday, October 30, 2011

An Affair

Ternyata jemari saya mandeg di bulan Oktober. Bukan karena semenjak hape kesayangan yang biasanya menjadi tools untuk menuang ide di kepala saya ke dalam tulisan itu raib, tapi karena otak saya sedang tidak bekerja. Hati saya fulltime bulan Oktober ini...

Sebuah cerita yang sanggup menyebabkan kemerosotan hubungan dengan perempuan yang sedang mengisi hati saya kala itu. Ya, saya harus mengakui affair itu sedemikian hebatnya memang. Entahlah, yang pasti otak saya dibuat lumpuh tak berlogika. Kalau boleh dibilang ini gila!

Dan lebih gilanya, sepanjang perjalanan waktu ketika logika saya terus menerus menghujat dan mengkomparasi, "dimana letak istimewanya perempuan itu? Bahkan secuil inspirasi pun tak bisa kau persembahkan di ruang dunia maya ini? Beda sepanjang bulan lalu, puitis kata, prosa hati, kau bisa dengan begitu mudah!" Otak terang-terangan menghujat hati.

Dan sampai kini hati tak memberi jawab. Hati hanya bisa terpekur pasrah ketika otak lah yang kemudian mendetilkan arti perempuan itu kini. Akhirnya, ia memberiku inspirasi, tepat disaat hati sudah merasa terlampau letih.

Tapi tak mau menyalahkan waktu, meski jika mampu memutar ulang waktu aku memilih untuk tak punya kisah ini dalam hidupku.

Sebuah affair; yang bahkan logikaku tak pernah terfikir akan mendapatinya dalam perjalanan hatiku. Orang bilang cinta bisa datang kapan saja; termasuk cinta yang salah. Entah apa dan bagian mana yang salah. Aku hanya merasa kesalahanku adalah membiarkannya tumbuh dan yakin aku bisa mengontrolnya dalam genggaman otak dan selangkangan. Namun teori selalu lebih mudah dari prakteknya. Dan kembali tak bisa menyalahkan waktu, kamu atau aku, affair yang sengaja disuguhkan untuk singgah dalam takdir ketika irisan takdirku yang lain belum terselesaikan.

No comments: