Tuesday, November 6, 2012
Mengapa sehari HANYA 24 jam?
Pertanyaan yang diajukan oleh orang yang mendadak sibuk seperti saya. Bukan sok sibuk, tapi ketika satu demi satu deadline dan penumpukan aktivitas serta kesenangan harus dilakukan bersamaan, maka pertanyaan diatas akan kumunculkan sebagai bentuk pemberontakan atas siklus alam yang bernama rotasi bumi.
Belum selesai mengerjakan sesuatu sementara mata sudah terkantuk-kantuk, kemudian beberapa pekerjaan lain menanti untuk dirampungkan, pun hati juga tak mau menunggu untuk segera ditindak lanjuti, lalu bagaimana cara saya untuk memolorkan selang waktu yang tidak terbuat dari karet ini?
Okay, saya tau ini konsekuensi, saya meyakini itu. Saya tidak mengeluh soal pekerjaan yang menumpuk itu karena saya memang berniat dan sungguh2 menyelesaikannya, saya hanya komplain soal jatah hari yang hanya memberi kuota 24 jam per harinya. Andai bisa 48 jam mungkin tak akan komplain.
Hmm, mulai absurd, abaikan jika komplain ini mulai tak masuk akal. Saya juga tak menyalahkan waktu kenapa begitu cepat berlompatan dalam hidupku, seperti orang sedang jatuh cinta saja ya, jatuh cinta pada pekerjaan! Hmm, yang ini lebih masuk akal. Jadi, 24 jam tetap tak cukup tapi menyelesaikan yang belum terselesaikan adalah kewajiban. Termasuk 30 judul Uncut dan Untold yang sudah tertata urutan dan outlinenya, hanya perlu WAKTU untuk mengeksekusinya. Berdoalah, semoga waktu bersahabat denganku untuk berdetak lebih pelan dari kebiasaannya berpacu dengan hidupku menjalankan siklus alam.
Mari menulis... Mari mengeja waktu!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment