Katanya, cemburu itu tanda sayang. Tapi kalau cemburunya pada orang yang sudah tak berelasi dengan kita tapi kita masih sayang, apa itu wajar? Wajar mungkin bagi pihak yang masih sayang, tapi di pikiran pihak lain kan belum tentu. Kalau kau masih berelasi, mungkin kau akan menyampaikan rasa cemburumu tapi kalau sudah tidak dalam relasi, what to do to express your jealousy? Karena mengungkapkannya pada pihak yang bersangkutan tentulah konyol, itu melanggar koridor pihak lain, anda telah menyebrang koridor anda dan kemungkinan membuat orang tsb tak nyaman. Walhasil, kalau itu terjadi padaku, hmm seems like I ruin my self, not because my jealousy but a question why I have to keep this jealousy?
Mengapa masih ada cemburu? Masih sayang itu mutlak. Tapi ketika dalam range enam bulan kau sudah menganalisa dan memberi solusi untuk merubah perilaku, yang salah satunya berkenaan dengan cemburu ini, maka untuk tahap implementasi bisa dibilang aku masih gagal, meski tidak total. Ya, kenapa ku bilang tidak total, karena komparasi dengan tahun lalu, aku mungkin akan lebih brutal ketika cemburu sudah mengakar di otak. Namun kemarahan kali ini bukan tentang apa penyebab saya cemburu, tetapi mengapa saya masih dihinggapi rasa gak jelas semacam itu sementara saya sudah belajar tentang ilmu pasir. Ya, aku menganggap kau adalah pasir di telapak tanganku yang kutatap dengan senyuman, kalau kau ingin tinggal kau akan menetap disana meski tertiup angin, tapi ketika kau tak ingin tinggal aku pun tak akan menutup jemari untuk menahanmu. Masalahnya, aku belum sepenuhnya khatam ilmu itu. Dan hal tsb yang menjadi penyebab kemarahanku, pada diri sendiri, bukan pada seseorang yang mungkin kau suka kini.
Lalu aku mulai berkicau, sebenarnya apa gunanya cemburu? Karibku yang juga karibmu menjawab cemburu itu tak ada gunanya. Ya, aku tau tak ada gunanya, tapi tetap terus tersimpan itu yang bikin gerus ati. Meski sudah dihampar fakta di depan mata berkali-kali dan dibuat "sadar" memang tak ada manfaatnya memendam cemburu, apalagi jelas-jelas aku tak diperbolehkan pada koridor itu. Tapi hati tetaplah hati, walau otak sudah menatakan hal yang semestinya dilakukan, hati mentah-mentah menabraknya pada posisi bukan di bawah tekanan alam bawah sadar.
Dan sebenarnya yang bikin parah dari kecemburuan yang diproduksi hati ini adalah efeknya yang uncontrolled alias tak terkendali. Kadang aku merasa aku bukanlah aku ketika sedang mencemburuimu.
Logika mungkin sudah terlampau lelah kalau dikatakan harus mendikte hati yang selalu iya-iya saja ketika diberi pemahaman. Otak sudah melakukan fungsinya dengan baik, mulai dari memetakan kekurangan-kekurangan mana untuk diperbaiki, menganalisa inti problema lantas mencarikan solusi. Dan ketika semua hal tsb disodorkan ke hati, hati sepakat serta mengamini hasil kinerja otak tsb, tetapi ketika sampai dalam tahap implementasi, sekali lagi akan bubar jalan wassalam, hati seolah membuat perilaku sendiri yang kemudian bersebrangan dari ide semula.
Sebagai contoh adalah soal cemburu itu, otak sudah mewanti-wanti tak usahlah cemburu untuk seseorang yang bukan milikmu meski segenap hatimu miliknya, dan hati menurut selayak ketentuan awal. Namun ketika melihatmu asik bercengkrama entah dengan siapa, tatanan panduan otak bubrah dalam sekejab mata. Hati bertingkah seingin kemauannya. Kalaupun ia berubah dingin maka itu akan dilakukan hati tak perduli apapun situasinya.
Aku kira ini bukan tentang anger management yang tidak baik. Karena kemarahan itu tak ditujukan padamu, tetapi pada diri sendiri yang tak mampu dan terus mengulang hal-hal yang sebenarnya tak ingin kulakukan. Bentrok kedua penguasa tubuhku inilah yang melelahkanku. Yang membuat kantung-kantung air di indra penglihatanku lantas penuh dan memanas. Marah pada diri sendiri jauh lebih menguras energi daripada meluapkan murka pada orang lain.
Cemburu itu harusnya tak ada, enyah jauh-jauh karena si empunya cerita sudah tak lagi berkisah dengan obyek yang dicemburui. Namun sekali lagi apalah daya jika bahkan penyumpalnya tak lagi bertahan ketika martir-martir pembunuh logika itu bertebaran memenuhi otak.
Aku cemburu karena masih sayang, itu jelas. Namun sungguh sayang juga jika jelas-jelas cemburu pada orang yang sama sekali tak perduli padaku. Jadi, mengapa masih ada cemburu? Kalau tak mampu menjawab maka mau tak mau, suka tak suka akan selalu terjebak dalam kondisi mirip orang yang mengalami split personality.

No comments:
Post a Comment