Wednesday, August 1, 2012
Renungan Kloset
Mayoritas apa yang kutulis dalam blog ini adalah hasil karya jempol kananku ketika di kamar mandi atau terjaga di pagi hari ketika libur.
Sebagian orang mungkin akan mengamini bahwa kloset itu seperti punya hipnotis untuk mencetuskan ide maupun merangkai kalimat, maka membawa hape ke kamar mandi bagiku lumayan menjadi keharusan saat membiarkan sistem ekskresi bekerja.
Puasa pun tak jauh berbeda. Maklum, ketika hawa dingin menyesap saat sahur, rutinitas kontraksi perut akan datang seperti menagih untuk dikeluarkan. Dan jempol akan bersuka ria mengurut dan merunutkan barisan memori di otak, terlebih untuk menggaungkan otak yang kembali menang mutlak. Tak ada quick count, pun tak ada penghitungan suara, namun bukan karena otoriter pula ketika aku mengamini otak menyatakan kemenangannya.
Ada yang berbeda meski ini kemenangan kedua otak. Hati tak akan terbiarkan menanggung kekalahan layaknya awal tahun. Porsi itu sudah tak terpakai. Kalah pun, hati tetap tak terbeli, meski otak tentu saja masih tetap dengan kepongahannya.
Ibarat renungan kloset yang selalu terakhiri gulungan air menyapu segala sesuatu yang memang layak tuk disingkirkan namun bukan dimusnahkan. Ia hanya harus keluar demi kesinkronan kerja tubuh yang lebih baik. Maka begitu juga dengan kemenangan otak, ia mutlak menang namun menjadi pemimpin tertinggi atas tubuh bukan semata ia otoriter pada hati, justru pe er besar otak kini adalah menyamakan persepsi, bahwa hati sampai kapanpun tak kan pernah membenci. Unsur berbau negatif itu mutlak hasil seringaian kurcaci-kurcaci kerdil yang memang tumbuh di kepala.
Genangan air sudah mulai bening. Itu tandanya aku harus beranjak. Pun begitu juga logika...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment