Keinginan Untuk Memiliki
Melihatnya terlelap di sebelahmu, dengan perasaan yang nyaris utuh selayak sebelum Desember lalu, namun tersadar bahwa kini adalah tak sama dengan waktu lalu, bagaimana kah rasanya?
Keinginan untuk memiliki. Dulu keinginan hati itu yang mencengkeram otak dengan ultimatum untuk mundur ketika merasa semua waktu dan pikiran lengkap dengan perasaan tak bisa keluar dari kata posesif pake banget yang entah kenapa baru ama yang ini bisa-bisanya dihinggapi perasaan kayak gitu.
Kadang merasa konyol juga sih ketika saya dengan segenap perasaan begitu sibuknya menyiapkan jaring-jaring agar ia tak keluar dari celah jala sementara ia mungkin tak berkeinginan tinggal. Namun aku percaya hati memang berisi kekonyolan-kekonyolan tak bernalar yang walau disadari pun tetap akan berulang dan terulang.
Hampir 2 bulan ini saya mendeklarasi bahwa hati saya sudah sembuh. Dalam artian, bahwa saya sudah tak mempunyai keinginan mengetahui apapun tentangnya. Ya, saya boleh dikategorikan sembuh untuk yang satu itu, selain mules yang udah pergi dari hidup saya tiap kali namamu kesebut. Dan bagiku kesembuhanku sudah total hingga tak akan masalah ketika akhir-akhir ini takdir hampir kerap mempertemukan kami -sesuai harapanku-. Namun ternyata aku belum terlalu sembuh...
Melihatnya, tentu saja, membahagiakan. Bahkan boleh dibilang endorfin alamiku bekerja over. Bagaimana tidak, mata tak mau dipejamkan, degup jantung yang berirama dan suntikan energi yang entah berasal dari mana, pastinya semua bekerja alami. Meski otak sudah berulang kali mewanti-wanti, seakan transmisi perintah itu meluruh di pembuluh nadi tak pernah sampai ke hati. Namun indikasi sembuh dengan ketiadaan keinginan untuk mengetahui cerita tentangnya justru berbanding terbalik dengan keinginan untuk memiliki.
Ego kepemilikanku masih mengakar. Cemburu yang masih menderu. Posesif yang masih aktif. Aku belum sembuh! Meski segenap lisanku seakan menulikan jeritan hatiku.
Aku tak sedang ingin membahas seberapa berarti perasaan itu, hanya mencoba mencerna dari koridorku tentang bagaimana caraku menyayangnya. Jadi ini tak ada hubungannya tentang bagaimana dan apakah ia menyayangku. Bagaimana menyikapi perasaan sendiri, yang tak ada hubungannya dengan perasaannya padaku kini. Menentukan pilihan dan tentu saja sikap, dalam sebuah pilkada hati...
No comments:
Post a Comment