Kok masih hujan sih, padahal kan harusnya udah musim panas?
Begitu satu pertanyaan seorang teman kost tadi sore. Seperti mempertanyakan hujan kemarin di saat telah beberapa waktu Jogja tak pernah diguyur air langit.
Juni, aku sudah lupa di mata pelajaran SD dulu harusnya musim kemarau atau hujan, lagian musim sudah tak terprediksi. Prinsip angin muson sudak tak berlaku.
Hari ini hujan kedua di bulan Juni. Seperti halnya tahun lalu, Juni adalah transisi dari separo tahun yang sudah ku pijak, merefleksi, untuk separo tahun selanjutnya.
Hujan kedua di bulan Juni masih tak menderas soal hati. Mungkin sedang hibernasi. Otak sedang full akselerasi dan butuh asupan lebih banyak ketimbang hati. Tapi di lain sisi, ada yang menghalang hati untuk membuka kisi-kisi. Ia seperti hujan di bulan Juni, mungkin tak tepat masanya, namun mampu sejukkan kala terik panas menggerayang hampir di tiap siang sepanjang tahun ini.
No comments:
Post a Comment