Wednesday, June 6, 2012

Gender Ekspresi

Dipanggil Mas.
Mungkin sudah ga keitung berapa kali orang-orang memanggilku demikian, mulai dari tukang parkir, ibu-ibu sampe narasumber diskusi yang aku ikuti dan semua orang dari ragam profesi juga situasi dan kondisi tempatku berpijak. Aku tak sedang akan membahas ini, karena orang-orang cenderung bertanya kamu nyaman gak dipanggil mas? Kalau gak nyaman, segera klarifikasi. Begitu saran seorang teman ketika diskusi di Solo tempo hari. Bahkan masih banyak variasi respon yang kadang juga bikin jengkel. Seperti ketika petugas kereta api prameks mengusirku dari gerbong perempuan, pun ketika kejadian di toilet perempuan UIN tidak terlalu lama ini dimana para perempuan di toilet tsb berteriak histeris melihatku lalu memandangi setiap gerakku di sana hingga sukses membuatku batal kencing gara-gara tak nyaman dengan tatapan mereka. Padahal kalau boleh jujur, ketika mereka berteriak, justru lututku yang gemeteran. Bayangkan kalau ada yang langsung anarkis ngelempar sepatu atau apapun ke arahku.

Konstruksi masyarakat yang masih stereotyping bahwa yang berambut pendek pasti cowok dan perempuan berambut panjang, sebenarnya gak bisa nyalahin juga. Makanya kalau ditanya nyaman gak dikira cowok? Hmm, aku hanya senang ketika mereka bingung sementara aku tenang-tenang saja. Pun ketika naik prameks lagi, aku sengaja menunggu ada gak yang berani "ngusir". Buntutnya, si petugas malah tunggang langgang karena kata teman-teman aku memelototinya. Bagiku Mas atau Mbak, adalah hanya pelabelan masyarakat. Tapi lebih suka dipanggil Om sih, bukan karena itu lumrah dipakai untuk laki-laki diatas umur Mas-Mas, cuma cocok aja kayaknya untuk panggilan awal sebelum namaku, jadi bukan karena itu digunakan untuk cowok atau cewek.

Transgender
Sebenarnya identitas seksual ini yang hendak ku bahas. Aku tertarik karena teringat pertanyaan seorang teman sekitar seminggu lalu. Waktu itu kami sedang rapat persiapan diskusi LBTIQ yang memang setiap bulan kami adakan dengan membahas tema yang berbeda-beda. Bulan ini kami hendak mendiskusikan tentang identitas seksual. Ketika beralih dari narasumber lesbian, dan biseksual, seorang teman menoleh padaku dan bertanya, "Untuk narasumber transgender, identitas seksualmu apa? Bisa kah menjadi narsum?". Waktu itu aku bilang bahwa aku bukan transgender, aku kemudian merekomendasikan padanya seorang teman yang sepertinya transgender.

Dan kukira si teman ini sudah clear dengan jawabanku, tapi ternyata beberapa hari kemudian saat ia bersama teman yang kukira transgender itu -dan ternyata bukan-, si teman ini kembali bertanya:"Kamu bukan transgender?". Entah karena ia sudah desperate karena tak menemukan narsum transgender atau ia memang keukeuh mengiraku transgender, yang jelas aku jadi tergelitik. Namun sekali lagi aku meyakinkan bahwa aku bukan transgender.

Sebenarnya pertanyaan si teman ini bukan yang pertama diajukan orang padaku. Meski tak sesering seperti saat dipanggil Mas, tapi identitas seksualku sepertinya cukup menarik bagi beberapa teman untuk dibahas. Sebagai salah satu responden penelitian, surveyorku pernah bertanya: secara fisik kamu sangat maskulin, rambut jabrik, pakaian dan perilaku tomboy abis, apakah kamu lesbian buci atau transgender?. Tidak semuanya, begitu jawabku. Memang bukan dua-duanya, karena aku bukan penganut pelabelan dan transgender juga bukan identitas seksualku. Aku tak pernah merasa terperangkap di tubuh perempuan yang kumiliki ini.

Mencintai tubuh sendiri, pastinya! Bahkan mbah-nya LSM yang membidangi seksualitas menganggapku unik. Tubuh tak mau disentuh tapi bukan berarti aku tak suka dengan tubuh sendiri. Waktu itu aku pun tak dapat mendefinisi kenapa merasa risih disentuh. Namun sejalan pendalamanku tentang tubuh dan seksualitas, aku kini meyakini bahwa pada beberapa bagian tubuhku hanya berfungsi sebagai asesoris. Menyentuh atau tak mau disentuh hanya soal kesepakatan dan kenyamanan, ini bergantung bagaimana berkompromi dan mengubur ego.

Balik soal transgender, aku meyakini kenyamananku berpenampilan maskulin adalah gender ekspresiku. Bagiku setiap orang pasti punya sisi maskulin dan feminin, jadi apa yang nampak diluar maskulin, mungkin Anda tak pernah tau ada sisi feminin yang kadang maupun sering muncul. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih suka dipanggil Om. Bukan karena merasa laki-laki ketika lebih sering nampak maskulin. This is me, yang merasa nyaman dengan atribut maskulin dan pastinya mencintai tubuh sendiri.

No comments: