Kenangan. Kata itu adalah grand desain atas segala sesuatu yang ingin kutuang tentang kamu. Sesuai esensinya, kenangan adalah ceceran kisah yang terangkai menjadi satu, maka akan seperti itulah kamu dalam buaian tarian jemariku yang akan mengisi kotak kalimat dunia maya ini tiap seminggu sekali. Dan hari yang kupilih adalah Selasa, karena Selasa cenderung menjadi hari keberuntunganku, meski hari hari lain tetap sama baiknya.
Aku pernah berniat akan menjabarkanmu dalam omnibus. Ya, di setiap helai hidup terkadang hal hal kecil tetiba merujuk pada sesuatu yang mengingatkanku tentangmu, sekecil apapun namun tetap menjadi panjang dalam anganku. Ada filosofi menarik sebenarnya, katanya, jika ingin melupakan seseorang maka ingatlah hal yang tak baik tentangnya, namun yang kulakukan justru kebalikannya, celah ingatanku hanya mampu menuturkan yang indah saja tentangnya. Ah, hanya alasanku saja, aku memang tak ingin menghapusnya dari palung terdalam meski otak telah mengirim penembak jitu terbaik untuk membinasakan kenangan itu.
Maka aku akan memberinya nama Kenang Kenangan. Maknanya bukan tanda mata, tetapi sedang mengenang kenangan. Hmm, seperti kataku, kisahku tentangmu akan hadir sekali tiap Minggu. Aku tak akan bilang ini kisah kita, karena rangkaian kata ini murni hasil cipta benak dan hatiku dari sudut pandangku, versiku.
Semoga sesuai dengan jargon hatiku tentangmu, yang tak berubah seiring berjalannya waktu, ya kau tau kan filosofinya, waktu yang biasanya merubah segalanya... Oleh karenanya, meski bukan saja bertentangan dengan filosofi waktu namun aku juga menabrak keputusan otak untuk tak lagi membuang segala bentuk kesia siaan energi dengan masih berkutat padamu, aku berharap Kenang Kenangan tentang perempuan yang sedari awal namanya begitu tak kusukai ini mampu memberi celah dalam hati untuk terus membuat perasaan tentangmu tetap bertumbuh meski dalam nyata seolah kebalikannya. Ah, aku tak bilang dalam nyata jelas kebalikannya, tetap saja BERHARAP.
Tanpa banyak kata, meski agak kelimpungan harus memulai darimana, mungkin tak akan runut apalagi urut, aku hanya mengikut prinsip omnibus, bahwa aku hanya akan menuang apa yang sedang tercecer di otakku tentangmu. Ingat, ceceran itu ada di otak, meski otak pulalah yang mengotaki untuk memberangus kenangan itu dari tempatnya melekat.
Dan inilah Kenang Kenangan tentangmu...

No comments:
Post a Comment