Friday, September 21, 2012
Rayya itu.. Aku, di awal tahun ini!
Pukul 17.20, kulajukan motor setengah ngebut di jalanan beraspal menembus Timoho menuju jalan Solo. Sembari melirik arloji, tepat 15 menit aku menginjakkan kaki di parkir basement mal terbesar di Jogja ini. Dilema antara parkir diluar dan di dalam ini sedari awal mengusikku. Kalau parkir diluar takut hujan, tetapi kalau parkir dalam nah nanti pulangnya pasti kebingungan dimana tadi naruh motornya. Dan beneran terjadi... Sehabis memarkir motor di areal yang bisa kuhafal karena dekat tempat penitipan helm, aku berjalan persis di belakang para cewek, bukan mau ngecengin, aku gak tau dimana pintu masuk menuju ke atas, jadinya aku ya ikut-ikut mereka saja dengan pasang muka pura-pura tau jalan...
Menuju ke lantai paling atas dengan eskalator, di lantai kedua aku bertemu si pemilik tiket. Ya, aku kemari karena ada premier film Rayya, Cahaya Diatas Cahaya yang dibintangi Titi Sjuman. Kebetulan yang berpapasan denganku tadi itu adik tokoh terkenal di Jogja yang anaknya memproduseri film tersebut. Dan ia memberi beberapa tiket gratis kepada teman-teman jaringan LSM.
Cinema 21 malam itu lumayan rame untuk ukuran malam Jumat. Hebatnya lagi film-film yang sedang diputar empat-empatnya adalah film Indonesia. Apa larangan film asing diputar disini masih berlaku? Aku juga kurang tau.
Satu persatu teman yang kebagian tiket datang. Jam 18.15 film tepat ditayangkan. Mendapat tempat duduk paling atas tentulah strategis. Dan melihat wajah Titi Sjuman berakting dalam film itu kemudian memutar ulang benakku kembali pada sekitar Juni tahun lalu...
Syuting film itu beberapa mengambil gambar di Jogja. Nah di beberapa tempat inilah aku pernah melakukan kegilaan. Titi Sjuman memang menjadi aktris favoritku sejak akting ciamiknya di Mereka Bilang Saya Monyet, tapi bukan karena sebab itu aku lantas "membuntutinya" selama di Jogja. Aku ingin melihatnya langsung!
Dan twitter menjadi penolong waktu itu. Aku mem-follow produser, sutradara dan beberapa tim produksi film itu selain Titi Sjuman yang sudah ku-follow duluan. Dari sanalah aku mendapat info keberadaan mereka dan juga interaksi setelah ini mereka akan kemana.
Taman Sari, Benteng Vredeburg dan Tip Top es krim Mangkubumi adalah tiga kegilaanku "berburu" sang aktris. Untung tak kulanjutkan ketika sang produser menyilahkanku datang ketika mereka sedang mengambil gambar di Rumah Tembi kemudian pesta lampion di Parangtritis. Kalau aku pergi juga ke kedua tempat itu, bolehlah aku di cap gila!
10 menit film diputar aku awalnya sudah mulai bosan mendengar karakter Rayya yang diperankan Titi Sjuman cuma marah-marah. Barulah ketika Tio Pakusadewo sebagai Arya sang fotografer muncul, dialog dan chemistry keduanya sangat menarik. Bercerita tentang seorang Rayya, aktris nomer wahid di negeri ini dengan konflik kekasihnya yang seorang pilot ternyata sudah punya istri dan selama ini menjadikannya sebagai selingkuhan. Konflik yang menohok-ku!
Amarah, tangisan dan emosional Rayya di awal cerita mengingatkanku pada diriku sendiri di awal tahun ini. Persis setelah aku memutuskan mundur dari cinta yang membelitku, segenap emosional Rayya adalah cerminanku. Dan beberapa dialog dalam film ini juga menamparku. Aku tak akan bercerita amarah dan tangis yang campur aduk di judul ini, nanti cerita ini akan menjadi bagian tersendiri dalam Kenang Kenangan.
Yang aku paling suka dalam film ini adalah angle, pemandangan dan wardrobe Rayya yang WOW banget nunjukkin indahnya nusantara.
Rayya itu aku seperti awal tahun ini, dan seperti halnya perubahan karakter Rayya di akhir cerita, maka aku kini pun sama, punah amarah dan tangis, kini hanya ada mencintamu dengan cara yang berbeda...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comments:
ecieee ... masukkk! :)
masuk pagi atau masuk siang...:D
Post a Comment