Tuesday, September 18, 2012

Ralat: Bukan Omnibus, tetapi Antologi!



Aku akhirnya sedikit gusar ketika berulang kali menyebut apa yang hendak kupenakan tentangmu sebagai sebuah omnibus. Usai membaca dan mengasumsikan, aku berkesimpulan tak akan lagi menamai Kenang Kenangan sebagai omnibus, tetapi antologi.

Bolehlah jika dulu ketika kamu sering menghias alam bawah sadarku, aku menyebutnya omnibus karena mimpi kuibaratkan sebuah film tanpa durasi, bahkan alur yang kadang tak mudah ditebak pun bisa mandeg kapan saja tanpa diduga. Secara tak nyata mimpi seperti film yang diputar otak. Aku memang tak yakin otak pula yang menyutradarai, namun karena layar gelap tempat satu persatu adegan itu tayang berada di kepalaku, mau tak mau otaklah yang mengotaki omnibus itu.

Dan kini ketika kendali tsb termandatkan pada jempol kananku, tanpa bayangan adegan mirip film, tiap huruf hasil ketikan yang kurangkai menjadi antologi ini harus sanggup membuat angan tiap pembaca seakan-akan menikmati sebuah omnibus.

Rencana awalnya, postingan Kenang Kenangan ini akan menghias seminggu satu kali, tetapi melihat animo otak yang menjejali jempol dengan penambahan-penambahan judul hasil ingatan yang tak mau hanya terjebak di kepala dengan hanya menghasilkan seutas senyum, maka setiap judul yang telah menetas akan tayang dalam bilik kata-kata ini tanpa menanti Selasa sesuai "hari baik" yang kujanjikan.

Otak sedang membiarkan jempol menari. Asal tau saja, jempol adalah tangan kanan hati, dan otak tahu itu, hanya saja otak sudah sepakat bahwa ide awal Kenang Kenangan yang mungkin bagi orang lain lebay, tapi bagiku worthed ini bukan karena #GagalMovedOn, tetapi cerita tercecer ini adalah cara hati menghargai ceritaku denganmu.

Jadi, antologi, omnibus bukan lagi!

No comments: