Satu lagi praktek Konsep Diri adalah keberanian mengambil keputusan. Berpikir secara prioritas. Hmm, aku tak membagi ceritaku tentangnya kepada siapapun. Hanya pada satu orang, orang luar yang netral dan dari disiplin ilmu yang layak untuk hal tsb.
Hari itu adalah hari terakhir aku bermimpi, usai mimpi indah di awal dan mimpi buruk menghantui akhir2 ini. Aku bertukar pikiran, karena rasanya sudah tak sanggup lagi membelit di otak.
"Sekarang bandingkan, motivasimu apa dan motivasi dia apa? Andai pun kalian jadian, gunanya apa? Buang2 waktu, bukan? Lalu untuk apa dilanjutkan sedangkan tujuanmu berelasi bukan sekedar having fun lagi?" cecar si penetral.
Ya, logikaku telah dari awal tersadar, hanya hati yang belum teryakinkan. Bahkan si penetral itu geleng2 kepala ketika aku melanggar kode etik untuk tak memberi perhatian pada perempuan itu.
"Kau yang memutuskan! Dan menerima resikonya!"
"Menurutmu, perlukah aku mengajaknya berbicara dan menjelaskan semuanya?"
"Menurutku, tak perlu, anak seusianya tak akan mengerti jalan pikiranmu. Lebih baik diam dan mendiamkan semuanya, termasuk apa yang selama ini ia persepsikan terhadapmu. Aku yakin, meski niatmu baik coba clear kan semua, tapi belum tentu ia akan mengerti, jadi lebih baik diam, toh kamu tahu tak akan berada dalam lingkar ruang dan waktu yang sama lagi dengannya, bukan?"
Yayaya the dream is over, meski meninggalkan akhir yang tak baik. Tapi aku banyak belajar, juga dari si penetral yang mengusulkan agar aku lebih banyak bergaul dengan laki-laki untuk tahu bagaimana mendapatkan hati perempuan. Satu proses pembelajaran lagi...
Next chapter for PDKT dengan Cara Berfikir Laki-Laki...
2 comments:
Vi...inget sama kata-kata PMDK mu? hahahah pendekatan mulu dapat kagak:P hahahahha
kadang usia mempengaruhi batas diri:P
wah masih inget ya ttg istilah itu....
Post a Comment