"Maliiinng..." teriakku subuh tadi. Sesubuhan aku begitu disibukkan oleh si Maling ini. Tak ada perhiasan terjarah, barang elektronik terangkut ataupun rupiah terberai. Hanya hati yang tercuri! Kamu, pencuri hati!
***
Hati tak bisa bohong, meski logika mencecoki agar mulut berkamuflase menutupi apa yang dinamakan perasaan. Ya, mulut atas dasar logikaku boleh berkoar aku harus berhati-hati agar hati tak luka, ia begini begitu dst, namun tetap saja, bahkan disaat aku berada di tengah celah hatiku yang lain pun, bukan otak yang menginstruksi pikiran untuk malahan memikirkan kamu dan cinta terlarang ini meski aku tengah berhadapan dengan sisi hati lain yang sedang bertumbuh dalam rekontruksi. Bahkan segenap upaya perbaikan aku dengannya terasa hambar saja karena hatiku sebegitu sibuknya berada di celah lain yang urusannya jauh lebih ribet.
#Galau yang tercecer, terimakasih suara serak ditengah kantukmu sedikit mengobati#
No comments:
Post a Comment