Jatuh cinta memang berjuta rasanya. Tapi bagaimana jika kau jatuh cinta tapi tidak tahu kenapa kamu bisa jatuh cinta dan tergila-gila pada perempuan itu? Kira-kira seperti itulah yang kurasakan beberapa waktu lalu. Tiba-tiba dunia berputar indah, waktu berdetak cepat hingga melewati sehari dua hari terlewat dengan senyuman. Seperti berada dalam alam bawah sadar dan ketika kembali pada kesadaran sepenuhnya kau seakan tak tahu mengapa kau sebegitu menggilainya. Jatuh cinta pada perempuan, oh tentu saja pernah kurasakan, tapi aku sama sekali tak pernah merasa seperti ini, karenanya saat dihadapkan pada perasaan "tak lazim" macam ini aku teramat tertarik untuk menelisiknya.Perempuan itu secara fisik tak begitu semampai. Rambutnya bergelombang panjang. Secara otak sesuai pengakuannya ia tak pernah berprestasi, namun bakat seninya mengalir deras. Secara fisik ia tak masuk dalam kategori sempurna, mungkin. Aku tak sedang membandingkan, sekali lagi hanya mencari tau mengapa sosok perempuan yang tidak istimewa membuatku merasakan perasaan yang istimewa? Dalam hitungan detik usai tangannya bersentuhan dengan tanganku untuk pertama kali, mataku seolah tak ingin lepas. Meski takdir hanya menyuratkan kebersamaan kami hanya tiga minggu dan menyisakan kemelut tak manis di akhir cerita, namun aku harus mengakui sampai detik ini terkadang bayangannya masih menghantui.
Beberapa hari lalu aku membuka-buka kembali potretnya di laptopku. Melupakannya adalah agenda utama bilik hatiku, meski dengan melihat gambarnya akan melanggengkan sosoknya dalam ingatanku. Dan aku mendadak menemukan jawab kenapa kisah singkat ini teramat sulit untuk kulepas. Biasanya, aku tak pernah menaruh hati pada perempuan dengan hanya melihat secara fisik karena bagiku kedalaman otak jauh lebih penting, tapi dengan perempuan yang wajahnya serupa mantanku dan usianya jauh lebih muda ini aku luluh lantak oleh sesuatu dalam fisiknya. Bukan paras ayu atau body bak gitar Spanyol. Gigi gingsulnya. Tau gingsul kan? Tonjolan gigi yang terletak tidak di tempatnya. Kalau artis mirip gigi Dara The Virgin. Awalnya kukira aneh saja jatuh cinta kok ama gingsul, tapi ketika kuputar benakku pada pertemuan awal dulu, ya senyuman yang memamerkan gigi tak rata itulah yang membelit hatiku hingga kini.
Jatuh cinta memang berjuta rasanya, tapi bermilyar pula pembelajaran atasnya. Si gingsul yang tak teraih hati ini memberi banyak pelajaran bagiku untuk tak lagi esensialis (baca: meletakkan dan menempatkan sesuatu pada porsinya sehingga jika melakoni hal diluar yang semestinya akan kurasa “tak wajar/terlarang”), diantaranya:
1. Kalau sedang naksir jangan kebangetan nunjukinnya... Just calm down and stay cool...
I have to learn this, agar mata tak hanya terpaku pada sosoknya seperti dunia milikku seorang. Karena negatif effectnya, kau tak akan pernah tau kalau ada orang lain yang diam-diam naksir kamu dan nyeselnya baru tau belakangan ketika orang tsb sudah mundur teratur hehehehe tak percaya, ini sering terjadi padaku...
2. PDKT dengan cara berfikir laki-laki.
Aku sebenarnya tak terlalu setuju dengan ungkapan ini, karena seperti pelanggengan atas heteroseksisme. Aku tak bersetuju bahwa perempuan menggunakan hati daripada perasaan. Jelas dalam kategori ini aku banyak pakai logika, meski tidak memungkiri bentrok juga dengan hati. Dan hati lah yang kadang suka ngeyel-in kemauannya pada si otak. Jadinya ya ketika otak sudah mati-matian melogikakan sebuah relasi yang sia-sia, tapi hati masih saja mellow-mellow gak jelas.
PDKT dengan cara berfikir laki-laki adalah ide dari salah seorang konselorku, mengingat kata dia cara pendekatanku pada perempuan tak akan berhasil kalau aku sendiri memahami perempuan dari sisi perempuan. Hmm, malah membingungkan ya? Aku mencermati idenya, tapi kemudian menarik konklusi bahwa ya si konselor mungkin masih melihat dalam kaca mata heteroseksisme tadi. Tapi aku bersetuju dalam hal ini karena konteks perempuan yang berada dalam target PDKT ini memang lain daripada biasanya. Jadi aku manggut-manggut ketika si konselor menyarankanku untuk lebih banyak bergaul dengan laki-laki, memahami pola pikir mereka saat menaklukkan perempuan.
3. Terlalu jujur.
Wadow, ini satu lagi sifat yang teramat perlu kukendalikan. Hobi yang paling sering keluar ketika berhadapan dengan orang yang disuka adalah kadang suka grogi. Dan parahnya, ucapan yang terlalu jujur kadang menambah bibit-bibit kesalahpahaman. Apalagi jujur dalam hal yang prinsipil, jika iya maka iya dan tidak maka tidak. Hmm, jujur dalam beberapa hal mungkin baik, tapi kalau terlalu jujur, waduh beranjak dari pengalaman ini lisan harus dikontrol untuk memilah dan memilih mana yang harus dikatakan jujur atau disimpan untuk dikatakan di kemudian hari.
4. Jangan sia-siakan kesempatan.
Nah untuk kategori ini aku memang terlalu esensialis. Menempatkan segala sesuatu pada porsinya yang benar, jadi kalau tidak benar sedikit saja aku tidak mau melakoni. Dan buntutnya, rugi bandar euy! Sharing saja neh, kenapa aku menolak kesempatan yang pada akhirnya tak datang dua kali. Kebanyakan mikir, jika kulakukan maka aku sudah melakukan hal yang tak baik. Tapi kemudian sedikit menyesal bahwa hal yang tak baik itulah yang semestinya berlaku. Kesempitan dalam kesempatan, akibat banyak mikir akhirnya terlewatkan momen yang seharusnya mendekatkan kami.
Ya, cinta memang unik dengan segala keunikannya. Meski tak ditakdir bersama, ia menjadi cerita tersendiri dalam perjalanan hatiku.
No comments:
Post a Comment