Monday, January 17, 2011

Sisa Rasa


Semalam aku nonton ketoprak di panggung sekaten. Bukan tanpa sebab, karena memang ini kali pertama aku nonton kesenian yang bahkan bahasanya pun nyaris aku nggak mudeng. Perempuan itu menjadi salah satu lakon disana. Ya, kalau tak boleh munafik, secara otak sudah berakhir, tapi secara hati belum. Dan malam itu rencananya aku ingin mengakhiri proses hati.

Niatan awal itu diuji. Bayangkan, tanpa teman aku terus melaju kalau boleh dibilang mekso datang ke sana. Entah, malam itu sungguh tak bersahabat. Semua ku sms tapi tak satupun mengiyakan, bahkan partner jalan-jalanku pun sedang beragenda. Dan yang fix mau datang juga tiba-tiba meng-cancel. Janjian dengan teman kantor lamanya minta ampun gak nongol-nongol. Walhasil, duduk di kursi penonton dengan dikuntit pria yang matanya dari tadi ngliat ke arahku. Dalam hati dah mbatin, kalau macam-macam tak lempar botol mizone yang kupegang.

Aku sms salah seorang pemain yang ngabarin ia sedang dandan, bersama perempuan itu. Setelah lama menanti, si teman kantor sms kalo dia malah di belakang panggung alias di ruang rias. Aku nggak tau kalau diperbolehkan memasuki areal itu. Tapi boleh pun, mungkin aku masih mikir-mikir lagi. Dan aku melajukan kaki ke ruang rias diiringi teguran iseng pria tadi yang sama sekali tak kugubris. Heran aja, penampilan dah kayak preman gini masih aja gak luput diisengin! Dasar otak laki-laki itu memang perlu direkontruksi biar gak cuma mikirin penis!

Sesampai di ruang rias akhirnya ketemu juga ma si teman kantor.
"Kamu gak salaman?" Aku tau maksud dia adalah salaman dengan perempuan itu.
Aku menggeleng. "Nggak, sepertinya masalah kami belum beres." Ya, benar, dari gelagatnya aku bersyukur tak masuk di ruangan ini sendirian.

Mengenakan pakaian jawa yang pas badan, tubuhnya terbalut indah. Aku merasa bobotnya agak turun. Dan seperti biasa aku tak setuju dengan dandanan muka, ya demi kepentingan panggung ukuran ketebalan make up 7 lapis memang wajar.

Pertunjukkan dimulai, sayang mic tak mendukung, suara tak terdengar penonton. Ia mengisi bagian parodi. Katanya ditawari jadi peran putri ia tolak karena kendala dialog harus bahasa Jawa alus. Ketika bagian parodi dimulai, suara ketiganya cukup terdengar, tak seperti di awal. Hmm, tapi ada insiden yang terlewat...

Pas awal-awal belum dapat duduk, tiba-tiba ada lelaki muncul menenteng sepeda. Aku mengenalinya.
"Tuh, pacar dia!" bisikku pada teman kantor.
"Ah, masak!" sahutnya membeliak tak percaya sambil mata temanku menelisik detil lelaki itu dan kemudian sekali lagi bergumam: "Masak sih itu pacarnya?" Kubalas anggukan meyakinkan. "Lha kok doyan?"
Aku langsung ngakak. Ya ibarat beauty and the beast mungkin si lelaki ini -maaf- aku kategorikan the beast.
"Justru itu, awalnya aku juga mikir kayak kamu, kok dia bisa kecantol lelaki kayak gitu, tapi aku pikir lagi hal spesial apa yang dipunyainya hingga perempuan petakilan yang mengisi hatiku itu memilih lelaki -yang kata temanku- item kayak maha patih gajah mada itu hahaha

Hahaha cinta memang unik dengan kadang tak masuk akal. "Yakin dia pacarnya?" Teman kantor masih meragu.
Lelaki itu tak jenak, ia menonton lalu kemudian menenteng sepedanya keluar. Dari gerak-geriknya ia merasa "tak nyaman".
"Di FB seh iya, tapi gak tau kalo cuma status2an aja."
"Iya kali cuma status!"
Kujawab dengan angkat bahu. Dan tiba-tiba lelaki yang kami omongkan sudah berdiri di belakang kami. Bukan hanya berdiri, tapi ia -SENGAJA- mematung disana, meski matanya ke arah panggung. Aku dan temanku langsung ganti topik tak penting, lalu si lelaki ini kembali menenteng sepedanya.

Tak lama kami merasa capek dan duduk bekas tempat duduk si lelaki tadi. Perempuan itu belum nongol juga di lakon. Dan insiden kedua terjadi... Si lelaki yang sejak tadi sibuk menenteng sepedanya itu muncul lagi memarkir sepeda dan feelingku mengatakan...
"Lihat aja, dalam hitungan ketiga ia akan duduk tepat disampingku!" bisikku pada si teman dan belum aku mengunci mulut apa yang terucap barusan sungguh terjadi. Lelaki itu membawa tubuhnya pas di sebelahku. Untuk kali kedua ini aku benar-benar ngakak dalam hati. Jelas, ia sungguh tau siapa aku! Tingkahnya sungguh membuatku tertawa!
"Kalian saling kenal?" bisik temanku.
Aku menggeleng. "Tapi aku yakin dia tau aku!"
Berselang beberapa menit ia "tak betah" beralih duduk di seberang. Tawa yang bergema di hatiku masih terjadi. Dan si temanku ini juga masih menancapkan mata pada lelaki itu sembari tak henti berujar: "Kok bisa si kemenyek itu doyan ya ama dia?"

Usai lakon perempuan itu berakhir, kami beranjak tak sampai di ending cerita. Dan sungguh dalam perjalanan pulang jalan-jalan kulewati tak kurasakan. Gronjalan tak rata kuterjangi. Gak tau apa isi otak.
"Cemburu menguras hati!" ujar partner jalan2ku ngakak habis aku ceritain.

Hmm, cemburu kah? Rasanya tidak! Aku tidak cemburu dengan relasi mereka. Tapi tersisa satu ganjalan di hati, rasa itu masih ada. Ingin melihat sosoknya, meski tak ingin meraihnya. Benteng otak sudah terbangun kokoh, hanya hati yang tak mau di bentengi. Kalau begitu pertanyaannya sekarang adalah: Sebenarnya rasa ini masih tumbuh dan bersemi karena kau serupa mantanku atau hatiku saja yang sedang bernostalgi pada mantanku yang wajahnya mirip kamu? Mana yang benar??? Kapan-kapan aku buktikan ketika ditakdir bertemu dengan si mantanku itu.

No comments: