
Tuhan, maaf, aku menemuimu ketika takdir yang kau gariskan padaku seakan terlampau berat untuk kulewati, walau dengan tertatih. Hmm, doa keegoisan manusia. Namun disadari atau tidak, mayoritas -aku tak bilang semuanya- menempuh cara itu.
Aku mendapatkan ide tulisan ini usai dengan sedikit terharu pagi tadi aku mendapati ketidakkuasaan manusia ketika didera problema yang tak kunjung usai, malahan seperti siklus berantai yang kian lama memuai setelah terkena mentari.
"Aku hendak bercakap dengan penciptaku, otakku sudah tak kuat!" jelasnya.
Ya ya ya, bertemu dengan pemberi hidup, aku juga meyakini, memang menyuguhkan kesejukan tersendiri, meski itu bukti keegoisan manusia. Mencari di kala sedih, lalai ketika sedang bertaji. Tak perlu munafik untuk mengakui itu. Aku juga teringat ketika mengikuti pelatihan, seorang fasilitator mengajukan pertanyaan: "Masih perlu kah Tuhan? Jawab iya atau tidak!". Kontan semua berkasak-kusuk. Ada yang bilang mutlak perlu, bahkan ada yang berujar tak perlu, perlu hanya jika butuh. Semua terkembali pada tiap individu, Tuhan masih kah Engkau diperlukan hambaMu? Pertanyaan konyol makhluk ciptaan terhadap penciptanya bukan?
Pemaknaan perlu atau tak perlu bercakap dengan penguasa alam semesta adalah hak dan pilihan masing-masing. Aku hanya yakin, ini adalah sebuah proses. Meski berantai, namun tetap akan berakhir, apapun endingnya. Dan bersiapkah untuk proses baru yang mungkin juga berantai, isn't it?
2 comments:
mampiiiiirrr... :D
thank u....
Post a Comment