
Gelisah. Mungkin itu kata yang tepat tentang perasaan dan pemikiran. Konflik adalah makanan sehari-hari dalam hidup. Aku tak memungkiri itu, namun ketika satu persatu dan kadang konflik berbarengan tersaji, mau tak mau otak pun terperas, dan mau tak mau pula hati tergerus.
Masalah melatih kita untuk lebih bisa dewasa dalam berfikir, bersikap dan memahami sesuatu -dan seseorang-. Emosi yang turut terpancing adalah wajar, asal tak membubrahkan lajur hikmah yang harus dicari.
Aku pernah berujar, aku bukan tipikal orang yang suka menjelaskan, meski tak juga membiarkan kesalahpahaman. Aku hanya ingin mengkoreksi apa yang perlu kukoreksi, selebihnya aku hanya akan mengucapkan selamat pada orang-orang yang berkubang dalam asumsi atas diriku.
Mau sebohong apapun kita pada orang lain, tetap tak bisa bohong pada diri sendiri karena hanya diri sendirilah yang tahu apa yang telah dan tidak kita pikir dan lakukan. Kegelisahan pada asumsi orang lain, jelas bukan itu kupikir dan rasakan. Kegelisahan kenapa manusia seringkali memandang sesuatu hanya dari sudut pemikiran saja, seperti tengah menutup mata untuk kemungkinan lain yang mungkin bisa saja luput dari pemikiran.
Kegelisahan ini memang belum dan mungkin tidak akan berakhir. Aku tak akan mencari penyelesaian. Hanya melihat setiap proses berjalan pada lajurnya masing-masing karena otak manusia dibentuk secara individual berbeda dengan yang lain. Menyaksikan otak-otak itu mengorbit dalam iramanya masing-masing.
Memahami bahwa daun tak selamanya hijau, merah tak selamanya darah dan semua tak selamanya semua. Kadang apa yang tersaji di mata bukanlah seperti persepsi aku atau orang lain duga, oleh karenanya dinamika itu akan menjadi indah dalam harmonisasi perbedaan kegelisahan pemikiran atas satu atau seperangkat masalah.
No comments:
Post a Comment