Saturday, August 14, 2010

KOMUNIKASI



Komunikasi sepertinya kini menjadi obat mujarab yang harus kutelan setiap hari agar terhindar dari ketidaksepahaman. Namun sayangnya, obat mujarab itu raib dari peredaran alias tak ada di toko obat terdekat di kota saya. Mungkin saking banyaknya permintaan hingga stoknya menghilang dari peredaran. Aku sih percaya, banyak orang yang harus mengkonsumsi obat bernama KOMUNIKASI itu.

Aku tak tahu kapan mulanya dan bagaimana persisnya, tapi perlahan hubunganku dengan kamu memburuk. Awalnya, kupikir perbedaan dan perdebatan adalah hal yang wajar, lepas dari tengah sensitif atau tidak. Namun itikad baik meninjau ulang pertemanan yang bagiku tak disusun 2 atau 3 hari itu yang membuatku jauh-jauh untuk berfikir karena nila setitik rusak susu sebelanga. Tidak, aku menghargai persahabatan kita ketika aku meminta maaf meski aku merasakan sikap dingin dalam sms dan untaian kata yang tidak bernada.

Lalu aku me-remove fesbukmu. Keputusan yang kuyakini bukan karena emosi sesaat. Kau bukan tipe orang yang mudah memaafkan, sejak dulu kuyakini itu. Tapi terkadang aku pun punya ego, ketika usahaku kurasa maksimal, ketika pada puncaknya setiap apa yang kutulis tak kau tanggapi atau sengaja kau lewati tetapi kau menjawab celoteh temanmu yang dibawah kata-kataku. Egoku berkata: "Cukup teman pemaklumanku atasmu!". Jemariku kemudian menekan tanda hapus teman di akunmu, ingat, bukan karena kemarahanku. Aku hanya merasa ketika setiap ucapku tak lagi perlu untuk kau respon ya untuk apalagi kita berkoneksi dalam jejaring soal itu? Terkoneksi atau tidak, kalau memang tak berpengaruh apa-apa bukankah sebaiknya tak perlu terkoneksi?

Maaf teman, aku bukan marah padamu. Ini hanya sudut pandangku yang belum tentu sama denganmu. Kau bilang kau tak sedang ingin berpikir, itu hakmu, tapi kau tak bisa mengharuskan orang lain untuk selajur pemikiran dengan pikiran dan keinginanmu. Aku yakin suatu saat nanti jika kau terfikir bahwa persahabatan tercipta atas dua orang yang berbeda, aku yakin dua orang yang telah mengenal cukup lama walau tanpa pernah saling mendalami karakter masing-masing dengan lebih detil, tetapi percaya bahwa aku tak akan jadi seperti yang kau minta dan begitupun sebaliknya, aku yakin kelak ketika menilik kembali jejak masa lalu, akan dengan senyum kita tersadar bahwa SAHABAT itu lebih bermakna daripada ketidaksepahaman atas dasar komunikasi.

Kau pernah bilang kata-kataku terlalu rumit untuk kau pahami. Tidak, aku tak pakai majas hiperbola ataupun metafora, kata-kataku lugas, tapi jangan bilang kau tak suka kejujuran dan malah lebih suka pengandaian serta basa-basi yang akhirnya menjurus basi? Hmm, inilah aku, inilah gaya bahasaku dan inilah cara bertuturku. Lepas kau suka atau tidak!

No comments: