
Jadilah dirimu sendiri! Ya, akan percuma menjadi orang lain ibarat tubuh kita tapi perilaku dan pemikiran ingin jadi orang lain, meskipun itu pacar, teman atau sahabat kita. Hmm, teman dan sahabat, adakah bedanya? Tentulah, dan itu tak perlu kujelaskan.
Aku mungkin pernah bercerita bahwa selama hidup aku tak sekalipun punya sahabat. But, that's true! Ketidak pernah percayaan pada orang dan mitos bahwa sahabat adalah orang pertama yang menusukmu dari belakang, mungkin sudah terlampau dalam mencuci otakku. Tetapi tak lantas aku tidak menjadi sahabat bagi orang lain. Aku hanya kebalikannya saja, tidak ingin punya sahabat. Namun akhir-akhir ini aku sudah berjanji tak ingin mematok esensialisme-ku sebagai harga mati. Perubahan adalah hal yang patut dicoba.
Aku lantas mulai membuka ruang untuk bercerita. Ditambah problema juga sedang senang mengitariku. Aku memilih satu dari sekian orang untuk kubagikan keluh kesah dan masalah, pun tawa canda. Ya, aku memang lebih suka membagi tawa, begitupun ucap perempuan itu setiap kali kami bertemu dalam box berisi kata.
Aku memulai menjeda tawa dengan berkisah problema. Aku memilihnya karena aku menilai ia layak. Kecerdasan otak dan bagaimana cara ia memuntahkan pikirannya melalui lisan kuakui memikatku. Aku mulai nyaman bercerita. Hampir setiap saat ledekan, makian, pujian, narsis2an terangkai dan teraduk. Flirting, pengakuan, irama canda dan belahan tawa, sejenak membuatku yakin bahwa aku sedang menemukan sosok sahabat.
Persepsi yang kurasa akan memudar seiring kelunturanku akan keyakinan bahwa ia tak ubahnya teman. Aku mungkin belum bisa membuka nama untuk sahabat. Terlampau banyak berkeluh kesah pun mungkin orang akan bosan, apalagi hanya terkotakkan dalam kata tak bernada tak berwajah.
Sejatinya, meyakini bahwa sahabatku adalah diriku sendiri merupakan hal paling ampuh untuk tak lagi ingin coba-coba melampaui esensialis pribadi. Padahal tak ada trauma, tak ada ketakutan, dan tak ada kehendak untuk menutup diri, namun seperti tengah mencari belahan hati, aku mungkin tak mudah berjodoh menemukan seseorang untuk leluasa bercengkrama. Orang mencariku di kala susah, mencekokiku dengan cerita, dan telingaku dipatenkan untuk terus menerima, memamerkan senyuman dan meregangkan pelukan, namun ketika pilu meraja di kalbuku tak seorang pun sepertinya hendak menyodorkan telinga. Hmm, aku sudah terbiasa!
2 comments:
sama ya...
setiap saya mencari siapa yg tepat untuk menceritakan segala yg memberatkan hati...tidak ada yg bersedia meminjamkan telinga dan hatinya untuk mendengarkan dan merasakan...
akhirnya selalu saja kembali bercerita pada diri sendiri,,,dan tentu saja Allah SWT...
ya sahabatku selalu diriku sendiri...
Post a Comment