Tak pernah ada waktu bersama, kecuali via pesan pendek. Bahkan ketika bersua, ia diam dan aku tak menegur sapa. Aku sempat kuatir harus bagaimana ketika kini bersama, berdua. Beruntung degup jantung masih bersahabat. Berbasa-basi sebentar. Ya, seperti biasa ia terlihat cool. Memang gayanya, aku maklum!
Membahas mudik lebaran. Hal-hal nggak penting seh, dan lampu merah yang sepertinya terasa panjang cukup mengulur obrolan. Hahaha baru kali ini aku menikmati lamanya lampu merah agar tak segera berganti hijau. Dan aku masih saja kadang kikuk, what to do, what to ask, etc. Penyakit lama yang belum bisa sembuh.
Pengamat wajah yang tak berani beradu pandang, lebih sering terlihat ngelamun, namun lamunan yang tau ada mata yang sedang menatapnya. Ia tak berubah. Sepertinya ia model orang serius, sangat bertolak belakang dengan tingkahku yang hampir hanya iseng dan tertawa.
Ketika pulang, ada sebuah pengakuan tentang orientasi seksualnya. Ketika aku mengutarakan opsi sebab, ia merasa seperti sedang diinterogasi.
Hmm, status sosial yang menjeda, aku masih terlarut disana. Oleh karenanya, logika kemudian mengirim sinyal ke dalam kotak bernama hati. Pun kenapa degupan jantung tak luar biasa. Aku menikmati kebersamaan yang ada. Mengenalnya lewat bait kata dan lamunan muka, bahkan ketika wajah itu tak menyisakan jarak dengan wajahku. Platonis. Proses mengenal dan memahami. Dan imbas pencerah aura. Aku menikmati tanpa muluk-muluk asa!
U're the cutest ever...
No comments:
Post a Comment