Inilah cerita berikutnya... Awalnya aku agak kuatir "kelabilan" perasaan itu akan terbawa, maklum selang terakhir aku bertemu muka dengan si flirting hanya beberapa jam ketika otak dan lisanku dipaksa bertemu hal-hal baru. Mood yang tidak baik agak menguatirkanku akan merusak tugas yang seharusnya kukerjakan. Tapi optimis diantara kelelahan fisik coba kutebar.
Dan malam itu tak ada yang kukenal akrab. Hanya beberapa diantara mereka yang aku tahu dan tahu hanya nama, selebihnya tak kukenal. Beruntung satu diantara orang baru yang kukenal sungguh ramah. Ia bagian dari panitia. Aku duduk semeja dengannya saat makan malam. Lalu tak lama, seorang perempuan lagi yang kemudian menarik hatiku, datang. Ia duduk persis di hadapanku. Kami bertiga di meja itu. Dua orang itu tampak akrab. Sedang aku, tau sendiri, kalau bersama orang baru aku akan memilih duduk diam dan menjadi pendengar. Tapi aku tengah mencoba keluar dari esensialis diriku, aku terkadang ikut larut ngobrol tapi tak ingin terkesan banyak bicara, bagaimana pun aku orang baru.
Dan perempuan itu, di awal aku sama sekali tak respek. Aku menganggap ia congkak karena selama ia bicara tak sekalipun matanya bertemu mataku. Bagiku, eye contact adalah mutlak karena ketika orang tak menyapa mata orang yang diajaknya bicara pertanda ia mengacuhkan orang tsb. Dan aku sudah sering berhadapan dengan keangkuhan model begini, makanya aku tak ambil pusing ketika ia tak mengarahkan mata padaku. Mungkin hal itu yang menjadi salah satu penyebab aku show off dengan lisanku tentang isi otakku. Barulah ketika ia mendengar ocehanku, matanya tertuju padaku. "Dasar angkuh!" sinisku dalam hati.
Ketidakrespekanku pada perempuan itu bertambah ketika tahu ia begitu gagap teknologi. "Huh, gaptek aja belagu jadi orang!" rutukku lagi. Tapi aku kemudian menghargai isi otaknya. Gayanya yang sok asyik tak kuperdulikan. Tau sendiri kalau aku mengagumi dan tergila-gila pada otak perempuan, ya itu yang menutupi semua kebelaguannya.
Hari berlalu sedemikian cepat. Hari ketiga aku mulai menaruh perhatian padanya. Biasa, curi-curi pandang. Tempatku sangat strategis menikmati fisik dan otaknya. Siang itu semua orang sudah menuju ruang makan, hanya aku dan dia serta seorang lelaki. Aku sedang asyik chat dengan seorang teman FB yang agak tau tentang perjalanan cintaku. Aku pun bercerita tentang si perempuan ini padanya.
"Kamu nggak makan siang?" pertanyaannya mengagetkanku."Ayo bareng kesana." Ajakannya lebih mengagetkan lagi.
"Ya, sebentar lagi." sahutku seraya mengabarkan pada teman FB aku diajak perempuan ini lunch. Ahahay.
Dan aku semeja dengannya, melihat cara makannya yang lumayan "menjijikkan" untuk orang sekelas dia. Kadar ilfil dan terseponaku lantas naik turun. Tak apalah untuk sekedar pemandangan, batinku mendefinisikan fluktuasi ilfil dan terpesona itu.
Esok harinya aku "tergila-gila" hahahaha. Sejak di tempat ini aku selalu bangun pagi dan "mejeng" di depan penginapan. Aku melihatnya tengah sibuk "beraktivitas" yang membuat cermin ilfilku menanjak hahaha. Beberapa saat setelah aku masuk kamar karena penghuni kamar yang lain keluar aku mendengar suara yang familiar di telinga hatiku. Ia masuk ke tempatku tidur. Aku jelas agak kikuk, meski ia hanya mengitari sekitar, namun aku harus bicara apa jika ditinggalkan berdua begini. Dan kemudian kami bercengkrama, aku berusaha dengan sangat agar status sosial otaknya dengan otakku tak berbeda jauh. Mengimbangi setiap obrolannya hahaha agar tak nampak bodohlah, karena kadang aku bersikap bodoh di depan orang yang disuka. Tapi teringat gapteknya perempuan itu aku jadi agak PD berinteraksi dengannya. Ia menjelaskan apa yang akan dilakukan hari ini, menjelaskan tentang tempat yang kami tinggali ini, tempat asah gempa/bencana. Ia bercerita pengetahuannya tentang penyimpanan makanan dan tetek bengek bencana. Okelah ia mungkin fasih soal itu, aku mendengarkan dan kadang nyeletuk. Ia kemudian mengajak berkeliling, melihat-lihat tempat outbound, aku lumayan fasih soal ini. Kemudian ada seorang teman bergabung dalam obrolan pagi itu.
Kemudian aku baru menyadari satu hal ketika aku berdiri di hadapannya atau ketika ia membelakangiku, ia mengenakan baju tidur lumayan jauh diatas lutut dan kadang ia mengangkat kedua tangan ke atas melipatnya dibelakang kepala yang otomatis kian menarik bagian bawah bajunya ke atas. Well, pagi2 kok disuguhi pemandangan begini? Bukan salahku bukan ketika aku menikmati suguhan pagi? Dan lumayan parah lagi ketika melangkah keluar kamar dengan setengah terburu-buru karena sebagai orang yang mandi terakhir dan akan telat untuk makan pagi dan mengikuti kegiatan, secara tak sengaja mataku menangkap tubuh putih itu hanya berbalut lilitan handuk menuju kamar. Gila, kenapa ia tak menutup pintu!
Setengah jam kemudian aku mendapatinya telah terlihat cantik dengan busana yang menurutku sangat simpel. Waduh, kadar tersepona itu naik lagi, ahahay... Aku bahkan berdendang semu: "Kau cantik hari ini..."
Aku mengagumi otak perempuan, that's it! Ketika ia tampak menarik, itu bonus hehehe. Mungkin agak sedikit bertanya kenapa aku memberi judul Oedipus Complex, ya perempuan itu berusia diatasku. Dan ia SEPERTINYA hetero -meski seksualitas itu cair-. Sekali lagi aku mengagumi otaknya, menikmati setiap kebersamaan yang tercipta, dan mengingat lambaian, senyuman dan kecupannya ketika harus mengakhiri ini semua. Jujur ia perempuan berdaya tarik seksual yang pernah kutemui.
Hmm, tampaknya aku mulai ber-platonis ria! Tak apalah, selama bikin aura jadi cerah dan menggairahkan setiap suguhan hidup yang dicontekkan Tuhan padaku, kupikir itu akan berimbas positif.
Senyum dan tawa lebar itu akan kurindukan!
No comments:
Post a Comment