All thru your life,
I'll be by your side,
Till death do us part
I'll be your friend
My love will never end
Till death do us part
There'll be good times
And there'll be bad
But I will stand beside you
All the way...
Sayup kudengar suara Mike Tramp mengalunkan lagu diatas menemaniku bermalas-malasan Sabtu pagi ini. Capek! Capek badan dan pikiran! Lho kok jadi curhat! Tapi bukan masalah capeknya yang ingin kucurhatkan!
Mendalami satu demi satu kata bait lagu mellow diatas, ingatanku seakan otomatis me-rewind pemikiran-pemikiran yang memenuhi otakku akhir-akhir ini. Tentang masa depan hubungan yang kujalani kini, akankah berakhir till the death do us part -yang pastinya so sweet ending- atau bagaimana? Semua memang masih misteri dan bukan wilayah kekuasaanku sebagai manusia. Hanya sang Pencipta lah yang mengetahui semua. Aku hanya bisa melewati apa yang telah digariskan untukku. Tapi... Akhir-akhir ini tak jarang kemisteriusan Illahi itu menghinggapi otakku.
Disaat semua kini telah terjalani dalam hitungan tahun, dan aku yakini sungguh tak mudah untuk dihapus karena telah ada ikatan batin diantara kita. Ya, ikatan batin! Mungkin kau tak menyadarinya, atau tak pernah merasakannya, tapi bagiku, ketika aku merunut waktu, mengeja lembaran kisah yang telah kita tulis, lantas aku menyimpulkan setelah terlebih dulu menyadari bahwa ikatan batin itu telah tumbuh bersemi dengan sendirinya di hatiku. Bukan hanya denganmu, tapi juga pada bocah perempuan hampir dua tahun itu.
Pun sepertinya bukan aku saja yang merasa, ia juga. Aku bisa merasakannya, contohnya ketika naik busway kemarin, ia duduk dan tak menemukan sosokku, ia lantas memanggil dan mencariku dengan panggilan khasnya padaku. "Buyek..."(Bentuk cadel dari kata BU LEK yang artinya sama dengan TANTE). Yah, itu memang hal kecil dan sepele, tapi besar artinya buatku! Benakku seketika berpacu untuk mencari jawab, apa yang akan terjadi ketika usianya, juga usiaku dan usiamu, terus bertambah. Akankah kebersamaan ini selamanya? Pernahkah hal ini juga menghinggapi benakmu? Atau hanya aku saja yang terlalu sentimentil?
Makanya aku kadang tak habis pikir jika kecemburuanmu lantas membuatmu bertindak semaunya. Apalagi yang kau cemburu kan? Kurasa bukan saatnya lagi bercemburu, tapi sudah waktunya memikirkan dan menjalani sisa waktu yang telah Ia berikan pada kita untuk dirangkai menjadi cerita indah.
Maka cobalah untuk berimaji tentang kita. Apa yang kau buat jika kau takkan pernah berpisah dari suamimu? Apa yang akan kau rasakan jika di rahimmu kemudian bersemayam seorang janin lagi?
Apa yang kau lakukan jika aku hanyalah aku seperti saat ini, esok dan selamanya mencintamu? Pernahkah kau merasa?
Mulailah berimaji!
1 comment:
nice blog sis.
salam kenal.
Indy.
http://dfallasuf.wordpress.com
Post a Comment