Perjalanan ketiga ini sebenarnya sudah seminggu yang lalu terjadinya (10/05/09). Karena beberapa kesibukan dan faktor sok sibuk-menyibuk (biarin deh meski out of Mr. EYD!) baru hari ini sempat kutuliskan.
Menuju Gunung Kidul dengan mengambil rute yang sama, kami tiba setelah naik motor selama satu setengah jam. Kebetulan dusun yang kami tuju sekarang lebih jauh ketimbang dusun yang kami kunjungi sebulan lalu. Dan parahnya, tidak ada yang pernah menjangkau dusun ini sebelumnya, alias tidak ada yang tahu pasti dimana tempat berlangsungnya sosialisasi sekolah PRT ini dan tidak ada yang tahu jalan. Jadi, sepanjang perjalanan nanya-nanya ke beberapa orang dan mungkin mengandalkan insting atau tepatnya asal tebak jalan ketika bertemu belokan dan langsung berinisiatif nanya orang jika insting tak lagi berjalan.
Akibatnya, sosialisasi yang dijanjikan pukul sebelas di dusun Ngande-Ande molor hingga hampir sejam setelah akhirnya beruntung menemukan tempatnya. Dan itu pun secara tak disengaja pula. Ketika kami menyusuri jalan setapak dan melihat masyarakat tengah berkumpul, kami langsung turun dan bertanya. Dan kebetulan tempat tersebut adalah tempat yang dimaksud dan masyarakat sudah menantikan kedatangan kami.
Lukman, dari divisi sekolah, membuka sosialisasi. Peserta yang terbagi mbah-mbah, ibu-ibu dan remaja putri memperhatikan dengan seksama. Entah karena menyimak informasi atau karena si mbah-mbah nya ndak ngerti penjelasan Lukman yang memakai bahasa Indonesia itu. Maklum, aku dan dia ndak ada yang bisa bahasa Jawa alus, sedangkan sedari tadi kami dengar pak dukuh bicara menggunakan bahasa Jawa halus ala perwayangan kepada warganya. Oleh karenanya, pak dukuh yang sekaligus menjadi moderator acara harus mengulang informasi dengan bahasa Jawa.
Tak berapa lama, tim RTND yang bermukim di Gunung Kidul datang bersama Diony, seorang kawan dari LSPPA (Lembaga Studi Perlindungan Perempuan dan Anak). Penyampaian sosialisasi sedikit terbantu dengan hadirnya kedua teman yang fasih berbahasa Jawa halus.
Usai menunggu hujan reda, sosialisasi kemudian dilanjutkan di dusun Wuluh, masih di sekitar Dusun Ngande-Ande yang masuk dalam wilayah desa Tepus. Peserta berjumlah lebih sedikit dan keantusiasan peserta juga lebih kecil dari dusun sebelumnya. Mungkin dikarenakan perempuan usia produktif yang menjadi sasaran sosialisasi sekolah PRT di dusun ini mayoritas tengah hamil. Hujan kembali melanda, membuat kami tertahan sebentar dan beramah-tamah dengan warga.
Mentari telah menuai tiga perempat perjalanannya ketika kami merampungkan tugas. Diony menggagas makan siang yang kesorean di pantai Siung. Kami setuju. Tak terlalu jauh dari dusun Wuluh dan pantainya... Sangat indah! Mungkin aku yang terlalu ndeso tak pernah melihat pantai seindah ini sebelumnya, tapi kurasa tak apalah kalau aku memang ndeso karena pantai Siung adalah pantai pertama yang kukunjungi dan kukategorikan terindah untuk saat ini.
Bagaimana tidak bagus, di kanan pantai ada bukit-bukit kecil yang berjajar, sedang di kiri laut sebuah tebing yang kata Diony biasa digunakan untuk terjun payung/paralayang dan sejenisnya. Hanya sayang, sepi pengunjung!
Dan sayang juga, ketika sampai disana batre hape-ku melemah. Tak bisa dipakai motret. Tapi tak kehabisan ide, pinjem hape Diony. Ya, namanya juga minjem, gak enak juga pake lama-lama, apalagi baru kenal, jadi gak bisa gaya-gaya macem-macem gitu deh! Hehehe narsis mode on teruz...
Lukman dan Diony telah jauh menyusuri pantai sampai ke tengah, ketika aku beranjak dari pasir putih untuk kemudian agak kesulitan melangkah diatas karang-karang kecil yang terkadang seperti menusuk-nusuk kakiku. Wong ndeso tenan hahaha! Akhirnya sampai juga ke tengah. Ombak pantai berangsur datang, menghembuskan getar airnya menyentuh celana yang sudah kutekuk sampai dengkul. Kami memutuskan kembali ke darat, sambil tetap menajamkan mata mencari keong. Hehe kebiasaan ketika mengunjungi Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo kota kelahiranku dulu adalah selalu menyempatkan mencari keong untuk dibawa pulang.
Tapi tak seperti di Probolinggo, disini lumayan susah juga menemukan rumah keong bersama makhluk didalamnya. Karena yang ada hanya rumah-rumah keongnya saja. Di kubangan air bekas hempasan ombak, aku menemukan ikan-ikan kecil warna-warni. Juga landak laut yang asyik menghuni lubang-lubang di karang. Dan hamparan hijau, rumput laut kah namanya? I dont know hehe!
Begitu datang, makanan siap disajikan. Ikan goreng plus sambal mentah dan sayur. Lapar bercampur doyan, lauk yang terhidang seketika habis dan nambah! Gunung Kidul selalu menjadi perjalanan yang melelahkan sekaligus menyenangkan! Dan katanya, masih banyak pantai lain bertebaran di daerah ini. Hmm... Semoga saja ada kesempatan bertandang kesana, meski aku tak begitu suka gunung, tak begitu suka pantai, singkatnya tak berjiwa petualang, tapi aku hanya suka menikmati keindahanNYA!
No comments:
Post a Comment