Sunday, November 15, 2009

Menanti Sebuah Jawaban

Layaknya judul sebuah lagu, kini aku juga tengah risau. Menanti jawab akan sesuatu yang belum pasti dan teramat kuragukan akan terkisah dalam kehidupanku.

Kapan, kapan dan kapan? Aku selalu melantangkan kata itu. Kata yang tak pernah -dan semoga saja hanya belum- kutuai jawab. Aku sedang meracau, ya aku memang tengah kacau oleh pertanyaan yang tak pernah -dan sekali lagi semoga saja belum- kudapatkan jawabnya.

Jawaban pertautan hati. Untuk siapa hati ini akan berlabuh. Kapan, kapan dan kapan? Karena hati ini sudah letih. Hati sedang menunggu sesuatu yang pasti. Kapan, kapan dan kapan? Haruskah aku terus dan selalu bertanya -berharap-.

Terapi berpikir positif. Aku sedang menyelami buku itu. Bahwa pikiran mempengaruhi perasaan, sikap, hasil dan segala sesuatu yang merefleksikan apapun dari diri kita. Tergantung kemana kita membawa arah pikiran kita. Negatif dan positif.
Aku bukan tengah menahkodakan balutan pikiran dengan berburuk sangka pada Tuhan bahwa ia tak menciptakan seseorang yang terbaik untuk menemani dan menyempurnakan hidupku, tapi pertanyaan kapan, kapan dan kapan? terasa salahkah jika aku memenuhi pikiranku dengan tanya yang tak kunjung kupetik jawab itu?

Tanyaku adalah sangka positif agar jawab itu lekas-lekas kureguk. Aku percaya segala sesuatu telah digariskan, dibentangkan dan dipamerkan dengan cara yang kadang unik untuk ditelusur dengan nalar dan logika. Semoga...

No comments: