"Kamu kok tenang-tenang aja sih, padahal kelangsungan hidup kita bagai telur di ujung tanduk!" ujar seorang teman kantor padaku melihat aku tak tampak panik dengan situasi tempat kerja yang lagi masuk "ruang ICU" itu. Bagaimana tidak, seperti yang temanku ungkap, hidup kami memang tengah dipertaruhkan. Tapi prediksi mereka akan ketenangan wajahku sepertinya salah besar. Aku memang tak menampakkan rupa cemas ketika bersama mereka, tapi nyatanya ketika kakiku terayun pulang dan memasuki ruang 3x3 kala mentari baru sembunyi di peraduannya, bukan hanya wajahku yang berubah drastis. Mood. Otak. Dan semuanya. Seperti komplikasi penyakit, campur aduk. Masalahnya otakku tak hanya merekam cerita hidupku semata, tetapi juga urusan perut ibuku. Belum juga terselesaikan akan bagaimana aku menambah pundi-pundi rupiah, ruangan 3x3 itu memaksaku memikirkan hal lain. Jengah juga!
God, aku sedang tak ingin berpikir, sungguh! Karena tiap kali aku beranjak dari tekanan pikiran itu tiap kali pula semangatku sedikit demi sedikit luntur. Gamang lagi. Tujuan yang telah di-plan-kan tampak samar dan sumir lagi. Seperti jalan di tempat, stuck lagi. Dan kembali pertanyaan yang sama menggaung dan menggema dalam diri, kenapa hidupku seperti ini? Why God? Dan selalu hanya pertanyaan tanpa jawab!
00:23 Wed 28 Oct 2009.
No comments:
Post a Comment