Tuesday, October 6, 2009

Ceceran Cerita Lalu

Beberapa malam lalu ketika aku mengobrak-abrik dokumen lama, tak sengaja aku menemukan rangkuman tanggal-tanggal penting beserta ringkasan peristiwa. Dan tahu tidak tahunnya... Sepuluh tahun lalu. Tepatnya ketika aku SMU. Aku mulai membaca satu demi satu cerita, yang kuakui kosakata dan gaya penulisannya sangat lugas sehingga kurang enak dibaca meski secara keseluruhan mudah dimengerti.

.Ah, lupakan tentang bahasa! Aku memacu ingatanku untuk memutar ulang kenangan satu dekade lalu itu. Orangnya aku ingat betul, tapi satu persatu cerita yang tertera hanya beberapa tanggal saja yang sanggup kureka ulang sementara yang lainnya aku hanya sanggup berkata: "Cerita yang mana ini ya?"
Yah, aku memang sungguh lupa. Tapi sosok dalam cerita itu, aku masih teramat ingat. Perempuan yang setahun lebih muda dariku. Ia adik kelas yang kebetulan juga adik kandung teman sekelasku. Aku sudah mengenalnya, tepatnya, melihat sosoknya sejak ia kelas 3 SMP. Ia sering kulihat sepulang sekolah di mobil yang juga menjemput kakak perempuannya. Anehnya, setelah aku naik kelas dua dan ia jadi adik kelasku, aku malah akrab dengannya, bukan dengan kakaknya. Malahan ketika menelepon ke rumahnya dan kebetulan sang kakak yang mengangkat aku harus menyamarkan nama dan suara meski sang kakak selalu bisa menebak dengan benar. Tengsin juga, selevel dengan kakaknya, kok malah akrab dengan adiknya. Namun lama-lama aku jadi terbiasa.

Dan yang lebih aneh ketika aku beranjak di kelas tertinggi semasa SMU, aku dekat dengan dua adik kelas yang telah kuanggap seperti adikku sendiri sama-sama berebut perhatianku, bahkan untuk sebuah permen. Aku masih ingat ketika itu, adik kelas yang kelasnya bersebelahan dengan, sebut saja V, memberiku permen berbatang layaknya es krim. Nah, ketika itu, adik kelas yang lain, sebut saja M, lewat dan meminta permen tsb. Ketika tahu siapa pemberi permen itu terhadapku M manyun. Begitu pula ketika keduanya saling berebut buku-buku catatan dan hasil-hasil ujianku semasa aku kelas dua dulu yang lebih sering kuberi ke V, dan M pun iri. Aku bukannya pilih kasih, kupikir M lebih pintar sekaligus lebih kaya kuanggap mampu membeli semuanya. Namun M bukan mempermasalahkan tentang hal itu, ia juga butuh perhatian dan pemberian yang sama. Begitu pula ketika suatu hari berkas ulangan bahasa Inggrisku kuberikan pada M, V marah-marah. Padahal solusinya cukup dengan meminta berkasnya pada M untuk difotokopi. Tetapi V menolak. Hal yang selalu membuatku tertawa adalah kedua perempuan ini tak pernah terlihat akur apalagi berbarengan dalam satu even.

Status ekonomi yang menjedakanku dengan M, meski M tak pernah memberi batas. Aku sendiri yang memberi jarak. Lain hal dengan V, aku sering menyatroni rumahnya, kenal orangtua dan dua kakak perempuannya. Ia pun sesekali berkunjung ke rumah. Pernah, hubungan kami renggang bahkan nyaris putus ketika ia berpacaran dengan lelaki yang aku tak suka.

Dua perempuan ini mengingatkanku akan hakikat kenapa aku memilih orientasi seksualku sebagai pencinta perempuan. Aku dulu malah terfikir, aku menyukai perempuan hanya sebatas ingin punya saudara perempuan untuk berbagi. Aku akui, rasa cemburu itu ada, tapi tidak untuk memiliki. Aku hanya senang ketika mereka dekat denganku.

M dan V menautkan kembali ceceran cerita masa lalu yang selalu menyisakan sebait senyuman di bibir. Meski keduanya tak lagi dekat di selayang mataku, namun kita tetap berhubungan.

M telah meraih cita-citanya sebagai dokter dan menikah dengan lelaki yang seprofesi dengannya. Aku masih ingat ia pernah berujar begini ketika menyambangi praktek dokter THT tempat kerjaku dulu semasa ia masih menjadi mahasiswa kedokteran. "Mbak, kalau nanti aku jadi dokter, mbak jadi asistenku ya?" Sebuah janji yang mungkin suatu saat nanti akan kutagih.

Sedangkan V lebih ada kontak denganku. Smsnya sering mampir ke ponselku, seperti ketika aku pulang kampung Idul Fitri kemarin. Ia berujar kangen dan memintaku datang ke kota tempatku lahir serta dibesarkan. Tapi aku tak ada waktu. V mengaku sedang menanti giliran menikah setelah kakak keduanya naik pelaminan tak lama lagi.

Dua perempuan yang akan selalu membekaskan cerita manis dalam ceceran masa laluku.

I miss u, girls!

No comments: