Thursday, October 1, 2009

Menyikapi Dengan Kedewasaan

Amarah ini memuncak. Tak terkendali. Aku bahkan nyaris kehilangan kontrol ketika kehilangan kesabaranku. Api itu tersulut dan kian berkobar seperti hendak menyapu semua yang sanggup dilalapnya. Bahkan nyalanya memijar kesana kemari ketika minyak tanah dituang dalam panasnya hati. Membalas kejelekan dengan kejelekan yang sama. Aku merasa itu bukan duniaku. Namun batas kesabaran manusia selalu tak bisa diselami berapa kedalamannya. Kenapa harus selalu aku yang dituntut untuk bertahan ketika aku juga bisa melakukan kejelekan yang sama seperti yang ia lakukan? Lalu untuk apa menahan diri? Setan itu awalnya menggerogoti akal pikiranku untuk ikut dalam pola permainannya. Dan aku sungguh ikut. Beruntung kah ketika aku kemudian berhenti di tengah-tengah permainan?

Aku bukan sadar bahwa kejelekan tak seharusnya dilawan dengan kejelekan. Aku hanya tak ingin setan yang berada di kepalaku menang, tentu juga tak akan melakukan cara-cara sesempurna malaikat. However, I'm still a human! Bagaimana lantas kemanusiawianku menggugah sesuatu dalam diriku untuk hanya mengingat kebaikan. Menumpuk bahkan menimbunnya di kepalaku.

Jika aku sungguh ingin melenyapkan sosoknya dari hatiku, kelak kebaikan itu akan selalu kusemayamkan dalam tempat terindah hatiku tanpa memberi celah sedikit pun pada kejelekan yang kau lemparkan padaku kini untuk menyeruak dan menguasai kisi-kisi relung terdalamku.

Hati-hati ketika berucap, karena apa yang telah terlontar dari lisan takkan pernah bisa terubah, bahkan oleh tip-ex berlapis emas berlian sekali pun. Sikapi problema dengan kedewasaan. Meski selalu problema yang sama. Terulang dan berulang. Ketika sebuah hubungan hanya selalu dan saling menyakiti, semestinya harus terakhiri.

No comments: