Monday, April 13, 2009

SOERABAJA: On Last Minutes!


Senin minggu lalu, aku masih ikut rapat teman-teman yang akan mengantar PRT korban kekerasan dan trafiking kembali ke tanah kelahirannya di Ende - Flores. Kuperhatikan wajah-wajah yang akan berangkat kesana seperti membawa beban berat alias nge-blank. I dont know why! Satu demi satu rencana, budgeting, dan alasan-alasan dikemukakan hingga mencapai kata sepakat. Tetap, dua teman, satu dari divisi advokasi dan satunya divisi sekolah, menampakkan raut wajah tak terprediksi. Senang atau sedih kah?
Malamnya, aku ngebut bikin draft skenario. Kebetulan kisah tragis PRT korban trafiking oleh tetangganya sendiri plus ketidakadilan dua majikan yang tak pernah memberi sepeser gaji ini akan difilmkan. Saking ngebutnya, draft sekitar 20 halaman tepat selesai jam 24 lebih beberapa menit.
Esoknya, ketika pulang habis mbojo[baca:ketemu GF], aku mampir ke Gramed. Ponselku berdering. Dari nomor kantor LSM tempatku bernaung. Ada apa? Pikirku sembari menebak-nebak.
"Halo," ucapku agak ragu.
"Alvi, kamu lagi dimana? Ke kantor sekarang bisa nggak? Darurat nih!" ujar teman dari divisi advokasi. Kudengar tawa cekikikan beberapa perempuan di background suara dibelakangnya.
"Emangnya ada apa?"
"Kami tadi rapat, dan divisi advokasi memutuskan bahwa kamulah yang ditunjuk untuk mendampingi korban sampai Surabaya!" jelasnya kian membuatku bingung.
Aku tak ikut rapat, namun kenapa mereka menugasiku? Kedengarannya kan aneh! Lagian, aku masih belum seberapa percaya, tawa cekikikan itu mengaburkan keyakinanku. Tapi kalau ia sedang bercanda, ia tak mungkin memakai fasilitas kantor.
"Kamu nggak sedang becanda, kan?"
"Ini serius! Jadi, kamu bisa kesini nggak, secepatnya!" Sedetik kemudian ia berubah pikiran. "Kamu dimana, kami jemput!"
Singkat cerita, aku udah di kantor diberi pengarahan oleh koordinator divisi advokasi dan jadilah aku yang mendampingi korban hanya sampai Surabaya, kemudian ia akan menempuh perjalanan lewat udara.
Jadilah hari itu aku mesti ikut ribet beli tiket plus ketemu korban, sampai-sampai aku kepikiran, sepeda gunungku aku titipkan di shelter busway tak jauh dari kos ku ketika aku mengantar pulang partnerku tadi siang. Dan satu hal, seperti dua temanku kemarin-kemarin, gantian aku yang nge-blank! Hari Selasa ini bergulir seperti mimpi saja!
Rabu malam aku dan korban berangkat naik travel ke Surabaya. Subuh kami sudah celingukan di bandara Juanda. Matahari masih mengintip di ufuk timur sana. Penerbangannya pukul setengah sepuluh. Jadilah, kami kayak pengungsi, mana ia bawa tas segede bagong dan satu kardus yang lupa di lakban, hanya ditutup sekenanya, mana isinya piring kaca. Waduh, cepek deh!
Menengok ke kanan ke kiri mulai dari senyap hingga riuh rendah di bandara, tiba-tiba ada seorang lelaki tinggi besar mendekati korban ketika aku hendak menyewa troli. Sedari tadi lelaki itu kulihat mencurigakan. Ia duduk di dekat kami. Mencuri-curi pandang bergantian aku lalu si korban.
Naluri premanku muncul, meski jujur ini baru pertama kali aku menginjakkan kaki di Surabaya, dan jujur juga, meski dulu di Jakarta tempat kerjaku tak jauh dari bandara, aku tak pernah tahu prosedur di bandara. Hehehe wong ndeso tenan! Lha iya memang, tapi prinsipku satu, meski aku tak tahu, di tempat asing, aku harus tetap pasang wajah pura-pura tahu. Maklum juga, Juanda dan terminal Bungur identik dengan maling. Dan bagiku, siapapun orang asing yang mendekat, apalagi dengan cara pandang mencurigakan, harus kuwaspadai. Makanya ketika lelaki itu mendekati si korban yang seorang diri aku langsung memutar langkahku kembali. Ia terlihat canggung, lalu mencoba memulai obrolan. Aku menanggapi dingin. Tapi si korban kupikir terlalu ramah padanya.
Lelaki itu orang Timor Leste. Ia kuliah S2 di Salatiga. Ia naik pesawat sama seperti korban, transit di Kupang. Bedanya, lelaki itu menempuh jalan darat setelahnya, sedangkan korban melanjutkan dengan pesawat lain ke Ende. Otakku mulai berjalan. Meski tetap waspada dengan mengkomando si korban untuk tak terlalu banyak bicara pada lelaki itu, aku memintanya membantu si korban membereskan prosedur penerbangan ketika transit di Kupang nanti. Ia pun setuju. Entahlah, pada orang asing, terutama lelaki, aku membentengi kewaspadaanku hingga tujuh lapis.
Setelah menyelesaikan satu persatu prosedur di bandara dan melepas korban di ruang tunggu, aku menghirup udara Surabaya. Kota yang hanya pernah kulewati tanpa kupijak. Hanya dulu sekali, itupun ketika aku masih sangat belia.
Dan kupikir Jogja adalah satu-satunya kota yang tak kusukai, tapi ternyata aku lebih tak menyukai Surabaya. Sinar mentari begitu menyengat. Jalanan kota yang terkesan kumuh. Ah, sekilas menurutku lebih parah daripada jogja yang terlihat lebih bersih.
Aku menginap di rumah saudara jauhku. Ketika pulang dari reservasi tiket kereta untukku besok, ia membawaku melewati Gang DOLLY, yang katanya tempat prostitusi terbesar di Asia. Pendapatku, biasa aja! Malah kupikir lebih heboh yang di Tangerang. Sama-sama berlokasi di perumahan penduduk tapi disini aku masih mendengar suara Adzan dan jarang ada dentang house music, tak seperti di Tangerang dimana tiap rumah yang berhadap-hadapan saling adu setel musik kencang-kencang meski tak ada pelanggan. Dan disana suasana pun dibuat remang-remang.
"Ini masih jam berapa, jadi belum dimulai!" dalih sepupu jauhku.
Yah, aku nggak tau lagi. Yang penting aku telah tahu GANG DOLLY yang "legendaris" itu.
Oh ya, hampir saja lupa, ketika reservasi tiket dan ternyata sedang ada troble, sepupu jauhku mengajakku ke lantai paling atas di Delta Plaza. Ia menyeretku naik komidi putar yang berputar secara vertikal. Awalnya biasa saja, namun ketika mulai berputar, aku merasa separuh nyawaku terbang. Aku ketakutan. Menutup mataku rapat-rapat. Ternyata aku fobia ketinggian atau mungkin efek terkejut, whatever! Ketika beberapa kali putaran aku mulai memberanikan membuka mata.
Dan akhirnya aku menikmati, meski dengan kedua tangan memegang erat-erat ujung besi. Hahahaha tetap aja, intinya takyut!! Dan perempuan berhidung mancung di hadapanku begitu menikmati wajahku yang memucat. Ia mengarahkan lensa video hapeku tepat ke mukaku, tapi untungnya -karena tak tahu cara mengoperasikan hapeku- ia lupa menekan tombol RECORD ketika akan mengambil gambar mukaku tadi. Hah, untunglah aku tak jadi ditertawakan olehnya!
Surabaya is my second trip, juga salah satu pengalaman menarik buatku. Hmm... Kemana lagi ya tugas ketigaku? I'll be wait 4 that:)

No comments: