Monday, April 6, 2009

AIRMATA YANG TIBA-TIBA MERETAS....

04.48
Subuh. Aku tiba-tiba terjaga dari tidur. Mataku telah sembab. Bukan karena semalam aku habis menangis. Bukan pula karena airmataku tumpah. Aku merasa ada sedikit keanehan disini. Aku terjaga dengan menemukan tetes-tetes air mengalir dari mataku ketika alam sadarku masih bersentuhan dengan alam bawah sadarku. Dan airmata itu kemudian menderas ketika sayup-sayup aku sudah bisa merasa. Merajai segenap kesadaranku namun anehnya tak menghentikan tangis itu. Malah kian membuatnya menjadi-jadi. Entah apa penyebabnya! Aku sendiri tak tahu kenapa tiba-tiba aku menangis. Aku bahkan tak tahu awal mulanya. Bukankah ketika seseorang berlinang airmata tentu ada penyebab. Sedikit banyak pastilah ada, tapi aku.... apa?

Aku memutar ulang rekaman ingatanku. Sedetik sebelum aku benar-benar terjaga, aku sepertinya meyakini aku mimpi buruk, tapi aku sama sekali tak ingat rentetan ceritanya, mimpi itu terlalu abstrak untuk diputar ulang. Dan sepertinya bukan hanya kali ini. Kurasa sudah dua atau tiga kali dalam minggu-minggu ini. Kemarin-kemarin aku tak seberapa menghiraukan, atau tepatnya tak peka, dengan menganggapnyahanya sebagai penghias tidur. Tapi kali ini, sungguh, aku benar-benar dapat merasa ada suatu himpitan tekanan perasaan dalam sudut nuraniku. Yang aku tak tahu, darimana datangnya, apa penyebabnya, dsb.

Aku mulai merunut satu persatu. Semalam mataku begitu bandel tak mau dipejamkan. Kulihat waktu menunjuk setengah dua dini hari. Gila... mataku bahkan tak semilimeter pun menampakkan hawa-hawa mengantuk. Ini tak bisa dibiarkan! Aku tak mau esok hari beraktivitas sambil terkantuk-kantuk. Aku memaksa mataku untuk terpejam. Mencoba membuatnya ngantuk dengan main game di hape, tak berhasil! Kumatikan lampu, jalan satu-satunya yang akan membawaku berselancar di alam bawah sadar, tetap tak mempan!

Ada sesuatu yang memang tengah menjadi isu kencang di dalam otakku. Mungkin –dan sepertinya memang- itulah yang seakan memagarinya untuk tetap terjaga. Entahlah, ketika berada seorang diri. Dalam keheningan malam pekat. Aku tak mengerti kenapa fikiranku seolah bagai sebuah mesin yang terprogram. Ia begitu cepatnya terbius tuk masuk ranah dunia khayal, bukan tuk bermuluk-muluk, hanya merunut, memutar ulang, bahkan bak paranormal menghitung apa yang tak nampak di depan. Pertanda stres kah? Atau distres? Aku tak ingin dan tak pernah ingin!

Suatu hari ketika aku hanya ditemani malam aku tak ingin angan bersandar terlalu lama. Karena airmata itu terlalu menyesak dada.

06:01 Friday, March 27, 2009.

No comments: