Kusadari kembali
Ternyata semua khayal diri
Kini ku tau tak mungkin ada waktu
Untuk mencintaimu lagi
***
Sayup-sayup kudengar bait lagu mellow itu merasuk lembut gendang telingaku. Membawa pesan pada ujung-ujung sarafku untuk mereka ulang segumpal pemikiran yang memenuhi otakku sejak semalam.
Aku tak sedang meratap. Aku juga tak sedang merana atau bahkan patah hati. Mendengar lagu itu sebaris senyuman malahan merekah di garis bibirku. Sebuah pemahaman dan sekali lagi pembelajaran untuk mengkaji serta menggali karakter perempuan.
Satu lagi perempuan memasuki hidupku. Pun berujung tak jauh beda dari sebelum-sebelumnya. Namun kali ini kurasa sedikit berbeda dengan banyak kesamaan dari yang terakhir kutemui.
***
KEDAHSYATAN LISAN
Lisan terucap lewat mulut. Organ yang paling sering digunakan bagi kebanyakan perempuan. Mengobrol, ngegosip dll, yang intinya cuma mengukuhkan bahwasanya apa yang keluar dari mulut tersebut kadang berdampak dahsyat bagi seseorang. Lidah tak bertulang, begitu peribahasanya dan memang seperti itulah adanya.
Aku tidak mengatakan aku adalah korban dan kau atau orang lain pelakunya, tapi adalah kenyataan yang AGAK menyakitkan ketika orang yang istimewa bagi kita ternyata mencari tau bukan dengan bertanya langsung pada orang yang bersangkutan, namun menginterogasi orang yang mendapat informasi hanya dengan ketegasan KATA SI INI atau KATA SI ITU. Miris memang, tapi prinsipku, aku tak hidup dengan apa yang orang lain pikirkan tentangku. Kasarnya, ANJING menggonggong, ALVI berlalu hehehe...
Dan satu lagi tentang kedahsyatan mulut adalah dari mulut itulah aku mendapati informasi semuanya tentangmu tanpa kucari tau. Mulut itu datang sendiri. Mewejangkanku satu demi satu pernyataan dan kenyataan yang tak pernah aku duga karena sedikitpun tak kucari tau dari orang lain dan hanya bersumber dari mulutmu saja.
Sebuah wacana yang makin membelalakkan mataku ditengah kesadaran penuhku ketika berhenti untuk mencoba kembali bergesekan dengan emosi perempuan.
Lisan memang hanya meleburkan kata-kata. Tapi ketika tak dijaga, akan menguap tanpa makna.
Aku teringat pada ucapan seseorang beberapa waktu lalu, bahwa mengenal, mengetahui dan memahami karakter seseorang tak seperti membaca buku, bahkan setebal bantal sekalipun. Butuh waktu dan proses yang pada akhirnya membuatku sependapat bahwa karakter seseorang memang lebih tebal dari sekedar bantal tidurku.
***
PANDAI MENEMPATKAN DIRI
Balik lagi pada konteks mengenal orang-orang baru, aku juga teringat seseorang pernah berkata bahwa ia datang dan menjadi bagian dari hidupku disaat yang tak tepat. Bukan karena timingnya, melainkan cara ia menempatkan dirinya sebagai orang baru. Aku memahaminya. Namun, baru beberapa hari, pemahamanku akannya malah berbanding terbalik antara ucapan yang jelas-jelas dikatakannya dalam keadaan sadar sesadar-sadarnya dengan perilaku yang ia perbuat. Sangat ironis.
***
Aku beranjak dari hidupmu
Kini kusadari didalam sepi
Meski kupedih, cinta tak ada lagi...
***
KAMUFLASE
Mengaburkan inti masalah dengan mengkambinghitamkan seseorang atau sesuatu hal demi meraih sesuatu yang lain yang tak ku tau apakah itu.
Ibarat merpati yang dilepaskan dari sangkar emas. Terbang menukik kesana kemari melewati awan seakan tak mengindahkan teguran alam. Merayakan kebebasan tanpa empati. Entah apa yang dicari.
Kesimpulannya:
1. Teman hanya akan jadi teman. Tak juga sahabat, apalagi kekasih. Sahabat sejatiku hanya diriku sendiri.
2. Terlalu banyak hal yang direncanakan, maka separuh yang diucapkan sudah tak realistis lagi.
3. Skeptis dan tidak untuk ditiru. Tidak pernah seratus persen percaya seseorang. Dibilang trauma, benar. Tapi lebih tepatnya, waspada.
It's enough, I quit. Sudah cukup tentang hati. Tok tok tok ... palu hakim telah mensyahkan perpisahanku dengan masalah hati. Sudah terlalu banyak waktu terbuang hanya untuk mencoba menghidupkan kembali hati yang telah lama dibesarkan oleh kalimat AH, AKU BELUM MENEMUKAN ORANG YANG TEPAT. Sebuah penghiburan, dan entah sampai kapan bertahan. Aku telah terbiasa.
To Be Concluded...
No comments:
Post a Comment