Aku menyebutnya unik, bagaimana tidak, kenal aja ga genap 50 hari, pacaran juga nggak, tapi berantemnya kayak udah berumahtangga dua tahun.
Kita unik. Kau perempuan kedua yang berlaku begini padaku. Ia, perempuan yang sebelumnya, dari bidang studi yang sama denganmu. Perjalanan waktu yang hampir sama. Pesan pendek bersambung hampir setiap hari. Canda. Tawa. Kisruh kecil. Alur yang sama.
Oleh karenanya, aku kini terhenyak, akankah berakhir sama? Perempuan sebelumnya, kian hari kian bertingkah karena ia tahu perasaanku. Nada smsnya kian tak mengenakkan, semaunya... Sekali, dua kali, berkali2 pemakluman, dan akhirnya batas yang dibangun logika lebih tinggi. Bukan soal ego, tapi ketika ia tak bisa menghargai perasaan orang lain maka aku juga bisa melakukan hal yang sama. Kini, aku sudah tak lagi punya cerita dengannya. Mati rasa, tapi aku berterima kasih diatas segala yang pernah ia remehkan, ia sendiri yang kini merasa tak enak hati.
Merasa bangga ketika dicintai, aku bisa memaklumi ketika orang yang berada diposisi tsb baik secara sadar atau bahkan pingsan, berlaku seenaknya tapi tak merasa.
Aku pun sadar mungkin hal tsb hanya subyektivitasku saja. Belajar dari perempuan sebelumnya, aku kini hanya mendiamkan. Bagaimana pun aku tak berhak -dan tak mau lagi- menghakimi. Setiap orang bebas bersikap dan merespon. Yang menjadi koridor wilayahku adalah membenahi diriku sendiri. Aku sedang belajar untuk tak lagi justifikasi. Subyektivitas itu hanya menjadi milikku.
Aku memang terlarut buaian emosi ketika merasa bagaimana bisa hal tsb berulang dua kali padaku. Bersyukur, kadar emosi tak setinggi lalu karena sekali lagi aku sedang belajar dan membiarkan subyektivitas hanya menjadi milikku semata.
No comments:
Post a Comment