Monday, September 8, 2008

Second Chance

"Setiap orang punya kesempatan kedua!"
Aku teringat aku pernah melemparkan saran diatas pada seseorang ketika ia tak mau lagi membuka pintu maaf bagi mantan kekasihnya yang menurutnya telah melakukan kesalahan paling fatal, yaitu melanggar prinsip yang baginya vital. Berbohong.
"Kau perlu mendengar alasannya dulu,"
"Sudah, tapi tetap tak bisa kutolerir meski ia bilang kebohongannya terpaksa ia lakukan demi untuk tetap bersamaku dan ia memang punya niatan akan mengaku disaat yang tepat kelak,"
"Nah, dia ada niat untuk jujur kan? Jadi kenapa kau tidak memberinya kesempatan kedua? Mungkin dia akan berubah."
"Ya, dia berjanji tidak akan mengulang kebohongan lagi, tapi bagiku, ketika hal yang menurutku paling prinsip sudah ia langgar, maka tak ada jalan bagi kami selain pisah!" Perempuan itu kukuh pada pendiriannya.

Dan ternyata memberi saran pada seseorang itu lebih gampang daripada melaksanakannya sendiri. Ketika kini aku disuguhi situasi yang sama, aku malah mengambil sikap nyaris tak jauh beda.

"Setiap orang bisa berubah, tapi secara perlahan asal diberi kesempatan untuk membuktikannya!" ujarmu.

Kesempatan kedua? Pantaskah kau mengajukan hal tersebut setelah berulang kali kesempatan telah kubuka tapi kau tak juga membuat sesuatu yang berbeda, berkubang pada kesalahan yang sama.

Ketika semua sudah tak lagi mungkin dipilin dalam benang-benang yang sama, aku harap serabutnya tetap bisa saling tersambung, meski tak membentuk kesatuan selaras penuh keindahan, namun utuh dalam makna yang berbeda.

1 comment:

Sinyo said...

Kalo aku, seberapa besar arti dirinya dan berharganya padaku, aku akan buka kesempatan kedua dan ketiga. Stop! Sampe di hitungan ketiga.