Dua lebih besar daripada satu
Dua juga lebih banyak daripada satu
Dua mungkin lebih berarti daripada satu
Tapi dua tak akan pernah seistimewa satu
***
Teman adalah seseorang yang mengenalmu luar dan dalam, tapi masih menyayangimu.
That what's friends are for! Awalnya dengan begitu bangga aku meneriakkan ungkapan diatas. Meski aku seperti ditampar karena baru menyadari kehadiran orang yang setahun lebih kukenal ini ternyata lebih daripada sekedar teman curhat. Kemana aku selama ini? Atau lebih tepatnya kemanakah larinya nuraniku hingga seperti terbutakan oleh kamuflase akan sesuatu.
Aku telah teracuni. Ah, aku tak mau menyalahkan orang lain. Toh seberapapun kuat orang menyodorkan racun, bahkan terbungkus kertas kado berlapis emas sekali pun tapi jika antibodi dari dalam diriku sudah bekerja sedari dulu, tentu racun tersebut tak akan merasuk erat.
Introspeksi. Mungkin itu kata yang tepat. Tidak menyesali apa yang telah kulakukan dulu, namun belajar untuk tidak jatuh kedua kali. Hal yang sulit. Membangun semuanya dari nol. Tak mudah, namun tak untuk dipersulit.
Ternyata naif sekali niatku untuk menjaga dan menghormati apa yang telah dan pernah mengisi hari-hariku disaat harus mengakhirinya dengan cara baik-baik tapi kemudian menjadi bumerang bagi diriku sendiri.
Kini aku menganggap masalah itu terselesaikan secara kasat mata. Aku tak tahu dan tak perduli jika bagi pihak lain merasa masalah belum berakhir dan melakukan perbuatan tak kasat mata seperti yang selama ini dilakukannya padaku. Ah, aku sudah tak perduli! Toh kebenaran sejati akan terkuak tanpa perlu kubeberkan satu demi satu fakta.
***
Kehidupan bukanlah tentang hidup tanpa masalah. Kehidupan adalah tentang menyelesaikan masalah.
Pepatah itu benar adanya. Boleh dibilang baru saja aku bisa bernafas lega, hambatan lain muncul. Baru dua hari aku mengecap arti persahabatan yang merengkuhku dikala jatuh kemarin, aku dikejutkan oleh kenyataan berbanding terbalik yang kemudian membawa diriku untuk kembali berargumen seperti pemikiranku sediakala, bahwa sahabat sejatiku hanya diriku sendiri. Pasalnya, dimataku tak ada persahabatan sejati yang mengorbankan perasaan orang lain, meski demi mengagungkan kebersamaan yang sekian lama terbina.
Perempuan itu berpendapat aku tidak bijak dengan pemikiranku. Lalu bijak kah pemikiran dua orang yang menuntutku mengorbankan perasaanku? MENGAPA SLALU AKU YANG MENGALAH? TAK PERNAHKAH KAU BERPIKIR SEDIKIT TENTANG HATIKU...
Jika memang aku tak bijak dengan keegoisanku dan kedua orang itu lebih bijak dengan keegoisannya, maka berbahagialah dengan keegoisan kedua orang tersebut daripada keegoisanku!
No comments:
Post a Comment