"Bisakah aku mempercayaimu?" Pertanyaan itu akhirnya kulontarkan juga setelah dua hari ini kami bersitegang untuk sebuah hal yang mungkin dikategorikan sepele, tapi bagiku tak bisa dipandang sebelah mata. Conference call.
Beberapa minggu ini mungkin kami adalah korban iklan sebuah provider seluler yang dibintangi Luna Maya. Nelpon Semaumu. Saking semaumunya sampai-sampai tak tahu waktu. Pas sahur, subuh, pagi, siang hingga sore sesuai slogannya Gratis Sepanjang Hari. Mulai dari teman yang satu digabung ke yang lain dan seterusnya dari pelosok daerah A sampai Z. (Kok gw jadi kayak ngiklanin gini ya hehehe) Tapi memang seperti itulah kenyataannya. Awalnya, satu dua hari terasa seru, layaknya anak kecil mendapat mainan baru, namun setelah hampir dua minggu berturut-turut dengan penambahan orang-orang baru tiap harinya, aku jengah juga.
Pada dasarnya aku memang tak suka gaduh suara para perempuan bersahutan. Aku lebih banyak diam dan cenderung hanya mendengarkan ocehan mereka, hanya jika ditanya aku menjawab sambil sesekali nyeletuk iseng. Dan aku lebih mengenal perempuan ini juga gara-gara terbiasa ngobrol lama di ajang ini.
"Satu hal yang paling tidak kusukai darimu adalah kamu AHLI CONFERENCE!" Aku mengajukan keberatanku karena aku sedang berproses dengan perempuan yang usianya lumayan jauh diatasku ini menilik dari waktu yang dihabiskannya mencumbui handsfree. "Kalo diumpamakan ya kamu dapat julukan Prof DR Conference, MBA!" Perempuan itu terdiam. Helaan nafasnya jelas terdengar tersengal. "Kamu tau kan artinya... Kamu sudah benar-benar kelewatan!"
"Sms-smsmu juga kelewatan, nyadar gak sih!" Ia menyalak disela deru nafasnya yang turun naik seperti orang sakit flu. Sedari tadi aku memang mengiriminya sms bernada sindiran. Aku hanya ingin ia mengerti ketidaksukaanku dengan kebiasaan conference nya yang bagiku over itu. Tapi ia beranggapan berbeda.
"Kalau kau ingin mengingatkanku, jangan menulis sms yang tidak dewasa seperti itu!"
"Kalau kau merasa dewasa harusnya kau bisa mengerti arti sindiranku itu tanpa perlu kujelaskan lebih detil!" batinku.
Aku dan perempuan ini sedari awal memang sama-sama keras kepala dan tak ada yang mau mengalah. Namun entahlah kalau sudah tak ada yang meruntuhkan opini masing-masing, sedetik kemudian tawa kami akan meledak dan situasi tegang nan serius yang kami ciptakan sendiri tadi mendadak bisa berganti dengan permintaan manjanya.
"Pokoknya harus ML!" ujarnya dengan nada serius yang kontan membuatku terperanjat.
"Udah tau lagi puasa gini minta ML?" tanyaku dalam hati.
"ML Minta Lagu atau Minta Lagi?" godaku coba mengalihkan topik pembicaraan yang menjurus tersebut, sekaligus menghindarkan otakku dari ngelanjor(NGELAmuN JORok-red).
"Iya, Minta Lagu! Pokoknya kamu harus nyanyi yang menyejukkan!"
Dalam hati sebenarnya aku tertawa geli. Ia memang bilang kalau ia manja, tapi selama ini tak sekalipun ia menunjukkan perangai tersebut dalam cara bicara dan kedewasaan berpikirnya.
"Suaraku merdu ya, kok kamu seneng banget dengerin aku nyanyi? Padahal tadi pagi udah kan?"
"Pokoknya nyanyi! Cepetan..." rajuknya seperti anak kecil.
***
"Can I trust you?" Aku mengulang pertanyaanku. Kalimat yang terkesan rapuh untuk seorang yang nampak garang diluar.
"Yes I can!" sahutmu mantap. "Can I trust u too?" tanyanya balik yang kusambut dengan rekahan pelangi dari bibirku.
No comments:
Post a Comment