Sunday, September 7, 2008

Kamu itu... Belok?!?

Teringat curhat seorang teman beberapa waktu lalu. Ia sedang bingung dengan jati dirinya, namun dari lisannya ia bersikukuh bahwa ia bukan LESBIAN. Sebuah kata yang tabu untuk ia ucapkan, apalagi untuk ia akui sebagai bentuk orientasi seksual.
"Jujur, Al, aku baru tau dunia kayak gini ini karna aku kenal si Jelek!" jelasnya sembari menyebut perempuan tomboy yang kurang lebih enam tahun mengisi hidupnya dengan nama si Jelek. "Dulu-dulu aku nggak seperti ini, aku pacaran juga dengan laki-laki..."
"Kalau sadar begitu kenapa kamu tidak antisipasi sejak awal, malah seperti membiarkannya memasuki hatimu?" potongku mengingat ia bisa saja meninggalkan perempuan itu dan menikah dengan laki-laki, tapi tak ia lakukan.
"Entahlah!" Jawaban yang sama tiap kutanyakan sesuatu yang menjurus kepada orientasi seksualnya. "Menurutmu aku harus gimana?" Pertanyaan yang juga sama yang ia ajukan bukan hanya sekali ini.
"Dari awal kan sudah kubilang, semua keputusan berada di tanganmu! Tinggal kamu pilih aja, kamu akan menuruti logika atau mendengar nuranimu sendiri! Mudah kan?"
"Kayaknya aku akan mengikuti logikaku karna sia-sia dong kakakku sudah segitunya belain aku untuk menjauhkanku dari dia dan sia-sia juga dong Jelek pernah dipenjara gara-gara itu, ya kan?"
"Itu kan secara logika, hatimu tidak berkata seperti itu, bukan?"
"Aku hanya tau jika aku mengikuti hati aku akan lebih hancur lagi!" Perempuan itu mendesah panjang. "Aniwei, aku pengen tau, pertanyaan ini sebenarnya sudah lama kusimpan tapi aku belum menemukan orang yang tepat sebagai tempatku memperoleh jawaban.." Aku mencerna tiap kalimatnya. "Sebenarnya kenapa sih perempuan bisa jadi lines?" Perempuan itu mengucapkan kata terakhir dalam kalimatnya dengan suara lirih. "Mereka kan tau bahwa agama manapun melarang? Dan apa mereka itu bisa "disembuhkan"?"
Sebenarnya aku agak sedikit terlonjak mendengar kata "disembuhkan" barusan, tapi kemudian sebaris senyuman tersembul dari bibirku dan aku juga tak lantas ingin menguliahinya tentang homoseksualitas yang telah dikeluarkan WHO dari penyakit kejiwaan bla..bla..bla.. Karena aku tau ia sedang berusaha meyakinkan hatinya tapi merasa takut, jadi ia mengingkarinya dengan menjadikan orang lain atau tepatnya si Jelek ini sebagai Subyek pertanyaan.

Seiring waktu, ketakutan-ketakutan yang merupakan unek-unek di benaknya selama ini perlahan ia lucuti satu persatu ketika kedekatannya dengan si Jelek yang pernah terenggut oleh jeruji besi kini terjalin kembali.
"Sebenarnya apa sih maksudnya mendekati aku lagi? Apa ada tujuan lain dibalik sikap baiknya itu? Dia hapal betul kelemahanku, aku jadi takut, Al!"
Ketakutan yang ia maksud disini bukan takut menghadapi si Jelek yang memang dulu kerap menghajarnya sampai jontor. Ia sebenarnya takut akan CLBK, tepatnya takut nurani yang setengah mati ia ingkari akan membawanya kepada kondisi sulit seperti di masa lalu. Karenanya ia mati-matian menutup pintu hatinya yang hanya terbuat dari spons rapuh, serapat apapun udara masih bisa menyelinap meski harus tersaring.
"Kamu jangan tertawa ya, Al, aku pengen nanya sesuatu?"
Aku penasaran.
"Sebenarnya dalam dunia lines itu, apakah ML merupakan hal yang wajib?"
Aku tercekat. Waduh, kenapa dia nanyanya soal ini? Pasalnya aku tak secanggih dokter Boyke, bahkan pengalamanku pun belum terlalu banyak.
"Yaa kalau urusan ranjang seperti itukan hanya masalah komunikasi, sebab ada dua tubuh, jadi kalau yang satu tak setuju atau tak siap, kan jadinya nggak nikmat juga, ya kan?"
"Nah, itu dia Al yang sejak awal sepertinya menghambat hubungan kami..." Aku masih nggak ngeh. "Jelek itu slalu maksain berhubungan sedangkan aku belum siap, bukan karna apa, aku merasa hubungan ini masih salah, tidak sesuai dengan kata hatiku, tapi Jelek nggak pernah mau ngerti. Makanya kami sering berantem dan aku tak mau kejadian seperti itu terulang,"
"Menurutku hal yang paling utama yang harus kau lakukan adalah berdamai terlebih dahulu dengan hatimu tentang orientasi seksualmu. Kalau kau bisa menerima apa kata nuranimu bahwa kau menyukai perempuan, baru kau akan merasakannya sebagai sebuah hubungan, bukan sebagai ketakutan. Setelah itu, kamu tinggal mengkomunikasikan apa dan bagaimana urusan ranjang itu. Kalau kamu tidak berdamai dengan nuranimu, selamanya kamu akan merasa bahwa perasaanmu itu salah!"
"Kayaknya aku tetap akan memakai logikaku!" cetusnya kemudian, seperti tanpa pikir panjang.
"Gini aja deh, jangan memberi harga mati untuk apa yang tidak kau ketahui di masa mendatang, just pick what you think is the best for you!"
"Sampai kapanpun rasa sayangku untuk Jelek akan tetap ada, tapi aku inginnya kami bisa berteman baik ataupun sodaraan ama dia daripada hubungan seperti dulu. Aku nggak mau disakiti lagi, Al!"
"Kalau seumpama ia tak menyakitimu lagi, bagaimana?"
Ia tak menjawab. Tapi aku telah mengerti arti kebisuan tersebut.

Mengakui orientasi seksual kadang memang hal yang sulit bagi sebagian orang. Namun hati takkan pernah menemukan ketenangan sebelum mencari titik temu terbaik antara logika dan perasaan, tentu saja dengan cara dan pemikiran serta pertimbangan terbaik pula.

No comments: