Wednesday, April 10, 2013

Defining Pain



Sore itu di ujung gazebo saya berdiskusi. Berbincang soal pekerjaan tepatnya, tetapi kemudian ketika malam obrolan itu terngiang di telingaku, aku tergelitik.

Mendefinisikan luka. Kata itu memang tercetus di ujung gazebo. Tetapi mungkin sebulanan ini saya benar-benar lari untuk tetap mengingkari bahwa perasaan campur aduk dan berkecamuk itu layak untuk disebut sebagai luka.

Aku mungkin lebih menamainya marah. Karena aku benar marah dan hanya marah-marah, tetapi ketika mencoba mengurai satu demi satu benang kemarahan itu, muaranya hanya satu, luka.

Maka oke, itu luka, lantas?
Aku berdamai, bukan hatiku yang terluka, itu hanya goresan tipis, tetapi ketika garis hidupku dilukai oleh orang yang bahkan tidak level dalam kategori apapun, oke harga diri saya yang terluka. Dan itu menciderai hampir sepenuhnya hormon kemarahan saya.

Lantas ketika memutuskan itu tak lagi soal kemarahan, tetapi bagaimana menghargai diri sendiri saya sepakat mengenyahkan luka itu menetap bahkan seujung kuku pun.

No comments: