Sunday, April 7, 2013
Pemusnah Rasa
Siapa pencipta rasa? Kalau leci, stroberi, tentulah dari buah. Kalau rasa ini? (seraya menunjuk hati). Dan pertanyaan bodoh memang, serupa perasaan dari tempatnya bertumbuh ini.
Lalu siapa yang disalahkan ketika ada sebuah rasa bertumbuh dan mengekal di tempatnya tumbuh? (seraya menunjuk hati). Hati lagi.
Lalu bagaimana jika rasa itu mulai bertumbuh, membesar, padahal tempatnya tumbuh tak ikut mengalami pertambahan volume. Tak imbang, rasa yang kian bertumbuh, beranak pinak dalam tempat sebut saja ia berbentuk kotak, namun bahkan ketika kotak tsb penuh, ia tak mengalami kebocoran. Rasa itu seperti mengalir teratur. Sirkulasi rasa yang aneh, karena terkadang ia membuat kotak itu berwarna pink, kehitaman, merah, mengembang serta mengempis. Jadi seperti apa bentuknya si rasa itu? (seraya menunjuk hati).
Lalu apakah ada pemusnah rasa yang mengakar kokoh di tempatnya tumbuh ini?(seraya menunjuk hati). Musnahkan hatimu! Begitu gampangnya, bukan? Lalu merobek, entah dimana letak tumbuh si rasa tsb, lalu menghilangkannya. Menutupnya erat seolah tak terjadi apapun.
Kalau bisa dengan sedemikian mudahnya, maka kemari dan ambillah dimanapun letaknya...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment