Saturday, April 6, 2013
Belum Hilang Juga...
Kupikir marah padaMu takkan berlangsung lama. Maklum, meski tak sangat dekat denganMu, tapi aku punya cara-cara berdialog denganMu dengan cara yang menurutku istimewa. Hmm, apakah tadi aku menyebut kata marah? Apakah aku benar marah?
Aku memang sudah tak lagi menyempatkan perbincangan pagi denganMu. Aku hanya memakai caraMu memulai hari. Tapi tak ada lagi harapan dan permintaan tentang hidup, hati dan irisan takdir. Aku sedang dan masih tak percaya padaMu soal yang itu. Mungkin bagiMu juga tak penting. No no, aku tak mau ada asumsi tentangMu, ini hanya akan tentangku.
Aku hanya ingin mengingat suasana ketika pagi, ketika aku terpekur dengan mulut penuh mengadu lafaz berulang dengan tata urutan berbeda tentunya, dan aku menyenyumiMu setelahnya. Beberapa hari ini aku sengaja lari saat momen itu harusnya tercipta. Aku sedang kecewa, dan sekali lagi tak ada asumsiku tentangMu, ini hanya tentang kekecewaanku. Kekecewaan yang tiap hari bertumpuk tanpa berkurang. Jangan bilang itu tanda sayangMu, tanda bahwa Kau di sekelilingku sedang peduli pada pertumbuhan batinku. Tidak, aku tak percaya itu!
Dulu-dulu aku selalu percaya itu pertandamu. Namun kali ini, dan bukan asumsiku, Kau menunjukkan perangai kebalikan dari kebaikan-kebaikan sebagai simbolisasimu. Aku mengandaikan Kau sedang sangat menertawaiku. Hell ya, persetan kalau sekarang aku sedang berasumsi tentangMu. Aku sedang dan masih tak ingin percaya apapun tentang apa yang orang lain gembar-gemborkan tentangMu!
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment