Monday, April 8, 2013
L.A.R.I
Entah sejak kapan kekecewaan itu berawal, bertumpuk dan tumpang tindih, namun kecewa itu tercover dengan helai tawa yang mau tak mau harus tampak dari bibirku. Ada yang membisik di telinga untuk selalu bertata krama, mengalah dan sekali lagi menutupi apa yang sebenarnya berkecamuk di hati.
Tetapi hari ini aku sepertinya lebih memilih lari. Bukan sebagai pengecut, namun sudah tak ingin lagi apa yang mengering terus-terusan dihempas air seolah tumpah dari langit dan tak disengaja, bahkan sudah menjadi kehendakNya.
Lari. Terengah, meski tak setapak pun langkah kakiku bergeser di tempat yang mulai berjamur karena lembab dan sembab.
Lari. Letih, harus selalu merintih seolah pedih memang yang layak kulewati diantara satu persatu kecewa yang kini bahkan melambai angkuh dan aku harus suka cita memberi ucapan selamat datang dengan senyum terindah. Tak sudi, mending lari!
Lari. Aku meyakini lari takkan mengakhiri. Lari hanya menjedakan ruang untukku menyendiri...
Lari tanpa lompatan kaki...
Subscribe to:
Post Comments (Atom)
No comments:
Post a Comment