Dan ternyata endingnya pun tak jauh berbeda dengan Ani. Hanya aku berusaha mengalihkan kekesalanku -karena terus menerus dipojokkan atas kesalahan yang akarnya pada dirinya sendiri- dengan candaan ditengah wajah -yang dipaksakan- serius milik perempuan itu. Namun ketika ia pergi, kejengkelan itu tak terbendung. Aku memilih membisu sepanjang perjalanan pulang. Tak menghiraukan gurauan Ani atau ajakan Butet untuk bercerita masalahku. Aku sendiri justru bingung, aku sebenarnya marah pada siapa?
Moodku kembali pulih ketika Ani sukses membuatku tak tahan aroma kentutnya sementara ia terkekeh hebat sembari memegangi perutnya yang kaku, entah karena memang kebelet atau melihat ekspresiku akan bau tak sedap itu. Ani memang paling pintar membangun suasana. Sama ketika ia sedang tak enak hati, aku lah yang bisa membuatnya tertawa lagi.
"Sejelek apapun saudara, pasti lebih dicari daripada teman manapun!" Begitu ungkapnya.
Perempuan si empunya rumah masuk, masih dengan pakaian tidur yang sama yang dikenakannya semalam.
Tangan-tangan yang hinggap
Dalam dering telepon
Mulut-mulut berbicara
Ada irama dibalik kata
Tertata seperti nada
Kadang pelan kadang menghentak
Meski rancu oleh suara-suara tak tentu
Namun sanggup layu Dalam buaian wangi surga
Pagi tiba...
HARI KEDUA DI JOGJA
Hari ini nyaris berjalan cepat tanpa aktivitas. Dari mulai bangun kesiangan. Lalu praktis didominasi ocehan Ani dan Butet dengan benda elektronik bernama handphone itu.
"Untung saja pendengaran kalian itu buatan Yang Maha Kuasa, coba kalo Made in China ato Amrik, pasti sudah berapa kali beli kuping baru di Glodok!" sinisku. Bukan karena iri. Kalau aku mau aku bisa saja seperti mereka. Tapi hal itu cukup terjadi di masa lalu dan aku tak ingin mengulangnya.
Akhirnya aku iseng menelepon CH. Ketika kemari Februari kemarin, aku tidak sempat bertemu dengannya. Mungkin hari ini kami berjodoh bertemu.
Disinilah ada kelucuan terjadi. Benar-benar korban hape! Sewaktu aku menelepon CH, belum lama berbincang Butet tiba-tiba masuk dan menyodoriku hapenya. Aku nggak ngeh!
"Sakura mau ngomong sama kamu!" jelasnya. Aku memberi kode bahwa aku juga sedang bertelepon.
"Siapa?" tanya Butet ingin tahu. Kembali aku menggerakkan tanganku seolah berkata, "Kau tidak mengenalnya," Namun mendadak dengan gerakan cepat ia mengambil alih hapeku dan menyodorkan hapenya padaku.
"Nggak sopan!" batinku. Aku menganggap ia sudah lancang karena mencomot hapeku tanpa ijin, apalagi ia tak kenal temanku itu. Akhirnya aku ngobrol dengan Sakura.
"Apa kabar, Vi? Kok jarang angkat telponku, masih ngambek?" ledeknya. "Gimana blogmu, masih diisi?"
"Iya, masih. Tapi berhubung lebaran jadi mandeg dulu,"
"Sama kalo gitu,"
Belum selesai ngobrol, Ani menyodoriku hapenya. Kupu-Kupu Kecilku di ujung telepon.
"Aku lagi nelpon!" sergahku.
"Dia pengen ngomong ama kamu!"
Yah, jadinya masing-masing dari kami pegang hape bukan punya sendiri. Hapeku disaut Butet yang langsung berakrab ria dengan CH. Ani ngobrol sama Sakura pake hape Butet dan aku memakai hape Ani. Bener-bener deh benda elektronik bernama handphone ini emang bikin yang nggak mungkin jadi mungkin!
Tak berapa lama semuanya kembali normal. Hape balik ke tangan pemiliknya. Jadwal hari ini adalah bersua dengan CH lalu menjemput Kupu-Kupu Kecilku di rumah mertuanya. Aku sebenarnya agak nggak enak dan serba salah juga, mengingat tempat yang dituju itu ibarat dari ujung ke ujung, alias jauh bo'! Apalagi melihat ekspresi muka Butet yang tak menolak juga tak mengiyakan. Posisi yang sulit!
Merasa ada janji ketemuan, aku segera mandi. Namun tidak dengan kedua korban hape itu. Mereka masih saja sibuk ngoceh entah dengan siapa.
"Jadi pergi nggak sih sebenernya?" tanyaku geregetan melihat keleletan mereka. "Kalo emang jadi, Ani buruan mandi dan Butet buruan nyuci!" Tetap saja keduanya tak beranjak. Menjengkelkan!
Sembari menunggu Ani mandi, aku menemani Butet nyuci. Hapenya bunyi bergiliran. Tak berapa lama Ani datang. Ia bercakap dengan ibu Butet. Aku ikutan nimbrung sembari membenahi settingan ponsel Ani.
Baru jam setengah dua belas, semuanya sudah stand by. Halangan muncul. Butet lupa naruh kunci mobil setelah memindahkannya semalam. Jadinya masih muter lagi nyari kunci yang ternyata nyempil di kamar belakang.
TO BE CONTINUED...
2 comments:
Pipi... Setelah beberapa minggu lamanya kamu tidak menulis di blogmu kemaren hingga membuatku jadi kangen. Akhirnya banyak cerita yang kamu tuangkan ke dalam blogmu sepulang dari liburanmu di jogja. I love u.
Hehehe gak nyangka juga bisa ampe berseri kayak sinetron Tersanjung ajah hehehe. Ilu2.
Post a Comment