Wednesday, October 8, 2008

Lebaran in Jogjaa...

Lebaran tahun ini adalah lebaran pertama dalam hidupku yang tidak kuhabiskan di rumah bersama keluarga. Pasalnya, disaat mungkin orang-orang tengah bersilaturahmi dengan tetangga atau sanak famili, aku malah menjejakkan kakiku di kota yang tak satupun saudara dari silsilah ayah ataupun ibu tinggal disana.

Tanggal 2 Oktober pagi. Aku berkemas. Tadinya memang tak ada rencana untuk pergi keluar kota. Hanya memang beberapa hari ini kami bertiga, aku, Butet dan Ani, sudah kasak kusuk pengen ketemuan. Karena libur lebaran kami rasa paling tepat, bukan karena momen lebarannya sih tapi masalah mencocokkan timing yang tepat mengingat aktivitas kami masing-masing, juga keberagaman daerah asal. Ketika dirasa lebaran adalah the one and only waktu yang paling baik, maka direncanakanlah pertemuan tersebut. Awalnya, kukira hampir batal. Ani sepertinya ogah-ogahan karena pendeknya jatah libur. Jadi untuk ke Jogja hanya akan menambah lelah saja. Mungkin karena tekad untuk melihat masing-masing secara tiga dimensi, mengingat aku dan Ani sudah setahun lebih saling kenal, namun tak pernah ada waktu bertemu muka serta aku dan Butet yang baru sekitar dua bulanan kenal, Butet memutuskan datang ke Surabaya. Rencana telah disusun rapi. Tanggal 3 dipilih sebagai hari keramat itu. Namun satu hari sebelum hari H, Ani berulah. Membuyarkan apa yang telah disepakati. Nyaris membuatku murka.

Rencana kemudian beralih. Surabaya tak lagi dipilih. Jogja tempat Butet menghabiskan lebaran bersama keluarga menjadi pilihan. Aku mewanti-wanti Ani untuk tak merubah apapun lagi atau aku akan membatalkan semuanya. Dan tak disangka pula, yang tadinya aku akan berangkat dari Surabaya bareng Ani kemudian berubah ketika entah dapat ide darimana aku tiba-tiba pengen nebeng seorang saudara yang hendak ke Surabaya. Aku dan Ani memang agak sedikit berdebat mengenai transportasi yang kami pilih. Ani lebih condong naik bis, sedang aku lebih suka kereta api.

Berangkatlah siang itu aku ke Surabaya. Beramah tamah di rumah saudara sebentar, lalu kuputuskan menunggu di stasiun. Kereta beranjak sekitar pukul tiga. Nyaris tak ada pemandangan berharga selain sawah. Mentari terbenam utuh ketika kereta melaju diperbatasan jawa timur dan tengah. Pria yang duduk di sebelahku turun di Solo. Aku yang sedari tadi mengalihkan mata keluar jendela dan membisu sepanjang perjalanan, kini merasa sedikit lega. Aku bergeser duduk dekat lorong sambil melihat-lihat penumpang lain.

Empat kursi di depanku, ada turis yang ketika di stasiun tadi berdiri di depanku. Ia sedang berbincang dengan pria pribumi berambut gondrong. Tepat di arah pandangku ada cewek ABG dengan celana jeans pendek dan kaus ungu asik mengutak-atik hape. Lucunya, kami sering bersirobok pandang dan lucunya lagi, ia selalu cepat-cepat membuang matanya ke arah lain lalu memutuskan tak berani menoleh ke arahku lagi. Geli membuatku tersenyum sendiri. Dan upps... Tak sengaja ekor mataku menangkap sesuatu yang lain.Tepat di kursi berpunggungan dengan cewek ABG tadi, kulihat tangan perempuan tengah merengkuh leher seorang lelaki. Awalnya kukira tangan anak kecil, namun ketika kulihat kilauan kekuningan berjejer di pergelangan tangannya kupastikan ia adalah perempuan dewasa. Mataku terus tertarik memperhatikan aktivitas keduanya(hehehe). Meski hanya tampak punggung, aku meyakini keduanya berpagutan. Tak lama memang, namun berulang-ulang.
"Ya ampun, kayak nggak ada tempat laen aja untuk berbuat mesum!" rutukku sedikit jengkel. Bukan karena apa, tapi kulihat tak jauh di kursi depan keduanya seorang bocah perempuan kira-kira masih SD tampak sedang melongo menikmati tontonan gratis tersebut. Bahkan ketika pegawai kereta lewat pun tak mengurangi birahi mereka.
"Benar-benar kebangetan tuh orang!" Kejengkelanku membuatku menarik tubuh ke dekat jendela kembali menikmati jalan-jalan gelap yang dilalui kereta. Hapeku berdering. Dari Butet yang akan menjemputku di stasiun Tugu. Aku memberitahukan posisiku. Ia sudah menanti.

TO BE CONTINUED...

No comments: