Friday, October 17, 2008

EPILOG

Note: Aku nggak ngerti kenapa butuh waktu begitu lama untuk menulis epilog ini. Aku sepertinya ingin semua sempurna, cermat dalam pemilihan kata agar tak menimbulkan salah paham namun tetap apa adanya.
***

Dunia ini panggung sandiwara
Ceritanya mudah berubah
Ada peran wajah
Dan ada peran berpura-pura
Mengapa kita bersandiwara?
***

Plekkk!!
Aku menepuk jidatku lumayan keras ketika mendapati kenyataan yang harus kutelan, sekaligus berharap akan membuatku tersadar, bukan hanya secara logika tapi juga secara perasaan yang memang bandel sekali untuk dibunuh.

Satu persatu detil kejadian yang terekam dalam benakku kemudian silih berganti terputar dengan sendirinya bak piringan hitam yang secara otomatis mengalunkan lagu dari awal hingga akhir.

Menemukan kenyataan pahit tentang perempuan itu sebenarnya tidak sekali ini saja terjadi. Selama belum ketemu perempuan yang umurnya jauh diatasku itu pun aku sudah pernah dihadapkan pada fakta bahwa omongan perempuan itu seperti belut, terlalu licin untuk dipegang. Namun entah kenapa semua minus tentangnya seolah-olah dibantai oleh sesuatu yang tak ku tau apakah itu, yang pasti telah sanggup membutakan mataku. Yang ada, semua perbedaan, perdebatan dan benturan-benturan lain yang pernah tercipta, terkikis lalu menguap.

"Anj**ng!!"
Saking kesalnya, aku mengirimkan umpatan itu dalam smsku. Bahkan kalau perempuan tersebut ada dihadapanku saat ini, aku malah akan lebih lega melantangkan di depan mukanya. Tak pandang perbedaan usia yang semestinya meski marah kayak apapun kata itu tak pantas untuk keluar. Tapi kesalahan tak memandang usia, mau muda atau bahkan renta, jika salah dimataku tetaplah salah.
***

"Aku sayang kamu, Al!"
"Aku ingin jalan denganmu!"
"Semua terjadi karena rasa sayang, kalau tidak... Tidak akan pernah terjadi!"
Tatapan itu...
Kata sayang itu...
Perlakuan istimewa itu...
Pelukan itu...
Pagutan itu...

Ah, setan! Semuanya palsu! Bullshit!!! Aku tak henti-hentinya merutuki kelakuan perempuan paling munafik di negeriku Indonesia ini. Bayangannya seolah tengah mengejekku. Seperti setan melayang-layang sembari menertawakan kebodohanku.
"Ah, kenapa aku juga jadi psikis begini!" makiku pada diri sendiri. Aku kemudian mengatur nafasku yang naik turun. Menghempaskan halusinasi negatif yang diajarkan setan yang tengah asyik menari-nari di otakku.

Lompatan waktu dalam rentang malam itu melamban namun ampuh membuatku menilik kembali apa yang akan dan harus kulakukan.

Kadang aku juga tak mengerti dengan diriku sendiri. Cara kerja otak dan hatiku, tepatnya. Kesadaranku bisa sekaligus bersemi dalam kemarahan hebat.

Kesadaran. Yah, mungkin itu kata yang tepat. Kesadaran yang selama ini tak kupilih karena hanya mengandalkan emosi dalam penyelesaian masalah hati.

Kesadaran bagian dari pendewasaan diri untuk mencoba memandang seseorang dari sisi orang lain dan bukan memaksakan penilaian atas nama pribadi.
***

Kamu...
Aku memang tak pernah tau keinginan, pikiran dan hatimu.
Perasaanku telah kau tau. Dan jika perasaan itu nantinya hanya akan jadi milikku tanpamu. Maka akan kuiring dengan senyum kebesaran hatiku.

Aku tak sedang meminta. Aku tak sedang memohon.
Apalagi menghiba. Aku hanya ingin kau tau hatiku. Hati yang selama ini kau pertanyakan sebagai sebuah bentuk permainan. Diantara aku, kamu dengan dirinya.

Aku juga tak sedang menuntut. Apalagi memaksa. Karna ku tau sekuat apapun aku menginginkanmu tapi jika sekuat itu pula kau tak menginginkannya, maka sebuah hubungan takkan terjadi.

Belajarlah untuk menetapkan hati. Bukan malah terbang kesana kemari. Entah apa yang kau cari. Namun jika memang kau menikmati kepakan sayapmu dari satu dahan ke dahan yang lain, maka nikmatilah apa yang memang kau ingini.

Aku -kami bertiga, mungkin- hanya akan melihat dari bawah ketika melepasmu layaknya merpati yang terbang tinggi. Kemarin, dalam marahku, kudoakan merpati itu suatu ketika kan jatuh. Namun kini dalam sadarku, aku bukanlah dahan tempat kau singgah disaat letih. Aku hanyalah orang awam yang secara kasat mata kan menatap merpati terlepas dari sangkar emas yang menginginkan dan -mudah-mudahan- menemukan apa yang ia cari.

Aku tak ingin mendahului waktu. Aku tak ingin mendahului garis takdirku. Karenanya aku tak ingin berkata ini itu. Tentang sesuatu hal yang masih semu. Hanya saja kini aku sudah memastikan tempatmu di hatiku. Kilometer sebelas, tak berada diantara nol sampai sepuluh.

Sekali lagi EPILOG ini bukan tulisan perempuan patah hati, melainkan kesadaranku sebagai perempuan dalam mengenal dan memaknai kemudian menutup kehadiran perempuan dalam hidup dan hatiku.
***


Dan mungkin bila nanti
Kita akan bertemu lagi
Satu pintaku jangan kau coba tanyakan kembali
Rasa yang kutinggal mati
Seperti hari kemarin
Saat semua disini
Tak usah kau tanyakan lagi
Simpan untukmu sendiri
Semua sesal yang kau cari
Semua rasa yang kau beri

Mungkin saja ku bukan yang dulu lagi,
Mungkin saja rasa telah pergi...

6 comments:

Anonymous said...

Syukurlah kalau kamu udah tau dan mantap dengan pilihan hidup yang kamu ambil, Al...
Menjadi L atau hetero tak ada bedanya kalau hidup hanya diisi dengan tindakan dan pikiran2 negatif tentang hidup dan kehidupan...
Apapun jalan yang kamu pilih dan tempuh nantinya, berusahalah untuk melihat dan menikmati hidup dengan senyum dan lapang dada....
Good luck, Al...

Cosmic Soulmate said...

Yup! TQ 4 ur advice kakak Affy! Melihat dari kaca mata orang lain ternyata makin memberi efek positif daripada memakai kaca mata sendiri, dan itu... Melegakan!

Anonymous said...

Al, tanyakan pada hati kecilmu, hati tidak pernah berbohong. Tetapkanlah hatimu sis..

Anonymous said...

Balance between heart n logical mind aja deh, piss!

Anonymous said...

POISON OF SOULMATE

Persahabatan lebih dari 2 org apabila tidak bisa menjaganya dan TERACUNI oleh RASA CINTA dalam bentuk apapun pada salah satu orang sahabat kebanyakan berujung konflik lalu bubar...

FANTASTIC FOUR SAD ENDING!

Rgd,
Arya

Cosmic Soulmate said...

Saya nggak stuju kalo kakak hanya menyoroti masalah asmara saja, karna itu intern kami berdua&Alhamdulillah berakhir secara baik2 tanpa ada dendam ato pkrn negatif apapun dr pihakku, ga tau dr pihak lain! Inti masalahnya bagiku adalah keinginan satu orang diantara 4 orang tsb yg blh dibilang NYELENEH&itu dluar kendali kita brtiga krn ia jg pny hak atas hdupnya mau dkmanakan, ya tho? Jd mnurutku jgn hny mempersalahkan persahabatan yg teracuni cinta, krn dlm kenyataannya perpisahan hubungan kami secara hati jauh lbh mudah drpd persoalan Funtastik Four itu sendiri. Ok!